Dropdown

Minggu, 15 Maret 2015

BALADA RUMMAN DAN AHMAR


Alkisah diceritakan bahwa hubungan asmara antara Rumman dan Ahmar sudah seperti mur dan baut, pena dan kertas, atau saya dan odong-odong. Tak terpisahkan, sebab sudah menjadi imej yang satu. Hal semacam itu tentu saja membuat sebagian orang menjadi iri, atau mungkin juga hendak menguji, sejauh mana sih kekuatan ikatan kasih mereka? Tak terkecuali Qila.
Qila yang cintanya ditolak mentah-mentah oleh Boneng, kadang merasa bahwa adiknya yang masih bau kencur dan ngomong errrr aja belum lempeng, kok bisa-bisanya lope-lopean sama Rumman? Sudah gitu, berjanji sehidup-semati, lagi di depan pohon tomatnya Dudunk saling mengatakan: loping yu polepel.!
"Rumman, sini deh. Aku mau minta tolong," kata Qila di telepon. "Tapi jangan bilang-bilang Ahmar, coz kamu tau sendiri kalo die rempong."
"Oke, Ka...!"
"Jangan pake L...!"tegas Qila.
"Siap!" Dengan menggunakan ilmu Saipi Angin, Rumman tiba dengan cepat, membuat Qila merasa heran.
"Waktu Kak Qila tadi telepon, kan ane lagi lewat di depan rumah..."jelas Rumman.
"O, pantes..."Qila manggut-manggut. "Gini, Man. Kakak mau minta tolong, " lanjutnya. "Tapi inget, ini rahasia kita berdua. Ahmar ga boleh tau."
"Segitunya, Kak Qila...Emang apa sampai rahasia segala?"
"Kamu kan tau Kakak ngajar di SD. Nah, Kakak lagi nyuruh anak-anak bikin majalah dinding. Ntar diisi tulisan ama anak-anak. Kakak mesti mempelopori, kan? Berhubung tulisan kakak jelek, maka kakak minta tolong kamu yang tulisi..."jelas Qila.
"O, gitu? Tulisan ane juga ga bagus-bagus amat, Kak..."
"Dibanding tulisan kakak, kamu lebih bagus. Ya udah, mau bantu, ga?" kilah Qila sambil menyodorkan kertas polos dan pulpen. "Ga mesti dibagus-bagusin. Yaaaa, standar kamu yang biasa aja," lanjutnya sambil menunjukkan secarik kertas berisi puisi pendek.
"Nyalin ini?"
"Iya."
Rumman membaca dalam hati sambil menuliskannya.
-- Hambar --
seperti siang berganti malam/ dan tirai malam putus disayat mentari/apa yang sebaiknya kita lakukan/ bila keduanya begitu serasi/ maaf terima aja/ apa pun itu...
***
Saat Rumman baru sehari bertugas di Papua, Qila datang ke rumah Ahmar, dan menyerahkan amplop kecil.
"Dari Rumman. Baca aja," kata Qila dingin sambil mengemut es potong.
Ahmar merobek amplopnya hati-hati sekali dengan pikiran yang diselubungi ratusan tanda tanya. Wajahnya mendadak pias, dan bibirnya gemetar membaca tulisan yang ada di dalam amplop.
- maaf, Ahmar. Sepertinya kita sudah tidak serasi. Sebaiknya kita putus aja-
"Tidak! Tidak mungkin....!" desis Ahmar sambil memandang Qila. Tubuhnya gemetar seperti melihat hantu yang menakutkan. "Tidak mungkiiin....! Kak Qila, katakan, Lumman tidak mungkin menulis sepelti ini, kan? Tidak mungkin. Dia pasti belcanda, kan?! Katakan, Kak Qila! Lumman pasti belcanda, kaaan...!" teriak Ahmar panik sambil menyerahkan secarik kertas tadi pada Qila, sementara ia sendiri memencet-mencet nomor Rumman. Gagal. Diulanginya beberapa kali, tapi tetap gagal. Ahmar semakin panik, mundar-mandir tidak karuan dan mendecah sambil geleng-gelengkan kepala.
"Tapi kamu yakin ini tulisan dia?" tanya Qila.
"Ya, aku hapal itu tulisannya. Tapi...aaaalllllghhh! Tidak mungkin! Tidak mungkin Lumman menulis sepelti itu!" teriak Ahmar menghempaskan pantat di sofa, rebahan, tengkurap, lalu guling-gulingan di lantai sambil berteriak-teriak histeris.
Melihat itu Qila tak tega juga. Khawatir Ahmar gila betulan. Dihampirinya Ahmar, dan saat anak itu berteriak membuka mulut, dicocolnya dengan sisa es potong yang tadi diemutnya.
"Blep!"
Keruan saja Ahmar gelagapan. Teriakannya terhenti. Disemburnya sisa es potong itu sambil meludah berkali-kali ke dalam vas bunga.
"Udah diem! Gitu aja stres. Kayak orang gila. Semua itu rekayasa!" kata Qila.
"Tapi...tapi aku tahu itu tulisan Lumman..." tanya Ahmar sambil menyisakan airmata di pipinya.
"Itu aku yang buat!" aku Qila. "Kamu kan tau aku jago menirukan tulisan orang. Aku suruh Rumman menulis puisi yang ada kata-kata yang cocok dengan tulisan tadi. Jadi aku tau gayanya waktu nulis huruf pe, em, te, es, dan sebagainya...." lanjutnya menjelaskan.
"Benel itu lekayasa?!" tanya Ahmar dengan wajah berseri. "Kenapa sih iseng banget? Kak Qila jahat, ih!"
"Hihihi...."
"Kenapa, sih? Iseng aja. Hampil pingsan aku...."
"Segitunya...ya udah ah, kakak pulang dulu...."
"Eh, ntal dulu!" cegah Ahmar. "Peluk ciumnya mana?" lanjutnya sambil senyum-senyum menghampiri. Begitu sudah dekat, Ahmar langsung memeluk dan meletakkan kodok mainannya yang mirip Ahmar, eh kodok betulan ke tengkuk Qila, dan seketika masuk ke dalam bajunya.
"Hiiiiiiiiii....!" Qila menjerit ketakutan, dan tubuhnya bergelinjangan menahan geli, takut, dan jijik. "Ahmaaaaaar...!" teriaknya minta tolong. Tapi Ahmar sudah berlari keluar sambil tertawa mengejek.
"Hahaha....! Lasain! Itu balasannya olang yang udah ngeljain aku...weeek....!"
"Ahmaaaaaar...! Toloooong...."
"Bodo!"
***
sekian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar