Dropdown

Senin, 10 Agustus 2015

Janji Yang Diingkari




Senja Kelabu adalah gadis manis keturunan bangsawan. Meski badannya kurus, tapi selera makannya luar biasa. Kesukaannya adalah semur jengkol plus pohon-pohonnya. Dia pun menyukai sambalado pete, lengkap dengan kebun pete dan cabe. Makanya tak heran bila suatu hari nanti dia bercita-cita menjadi koki. Minimal mengelola restoran.

Jadi ada untung ruginya ketika akhirnya dia ‘jadian’ sama saya. Untungnya, diantara semua yang ngantri mendapatkan cintanya, hanya saya yang terpilih. Apakah karena saya lebih ganteng dan tajir dibanding lainnya? Bukan! Keturunan bangsawan pula? Boro-boro! Habis apa, dong? Sederhana, karena teman sekolah, jadi saya tahu tiap kali ke kantin pasti yang dicari semur jengkol. Nah, tiap datang ke rumah waktu pdkt, ya bawa oleh-olehnya itu; kalau nggak semur jengkol, ya sambalado pete. Gampang, kan?

Kamis, 30 Juli 2015


Puisi- Puisi Kepedulian dan Perenungan
Budy Cahyady Putra Ratu


Ah kau...

Aku tahu kau
Seorang anak duduk di lorong Gramedia
Isenh membaca bukubuku sembari menunggu jam sekolah usai
Lalu kau mencintai sastra
Dan berkoar sebagai seorang pujangga
Ah kau...
Datanglah ke desa tertinggal
Kembali sekolah SD di sana
Tidak perlu lulus, cukup sampai kelas lima
Ah kau
Di sana kau harus menjajakan daun pisang jika ingin jajan
Itupun bila laku terjual
Harapan untuk jajan hari ini tinggal impian
Dan kau akan merasa senang, saat menemukan teh kotak kosong
Dengan hati riang kau bawa pulang
Ah kau...
Di sana kau akan merasakan pilu
Untuk bayar sekolah kau harus merelakan si jalu ayam kesayanganmu
Atau kambingmu harus kau tukar dengan seragam putih merahmu
Dan harus kau tahu
Di sana belum tersentuh listrik
Kau akan merasakan mata kananmu membengkak
Dari lampu minyak tanah saat belajar malammu
Ah jika ini kau
Apa pernah berpikir sebagai pecinta sastra?
Apa pernah berpikir, kalau kau seorang pujangga?
Sahabat...
Datanglah kesana
Mari beradu aksara
Karena disana...
Tidak ada rengek manja, untuk menjadi perangkai aksara
Dan aku
Tidak pernah menghabiskan uang ayahku
Hanya untuk beradu aksara

======================================== 

Selasa, 28 Juli 2015

PERTEMPURAN oleh: Musiyem




Duh ... Melihat musuh yang begitu ganteng dan keren-keren, Pasukan srikandi dipimpin komandan Sutini Tini yang beranggotakan Esi Sunnysunny, Puspa AndiniPercaya Sama ZalikaSastra DewitaZenith AzzuraRossiSyam Aminah dan Wirda Fathiya Al Faiq tampaknya akan menyerah tanpa perlawanan. Pasukan musuh dari seberang memang luar biasa ganteng dan ... Hight quality brondy. Pasukan tempur mereka dipimpin Tedy Maulana Ibrahim dengan prajurit brondynya yaituShobikhul IrfanEmNu Rushob AchElCefri D'alberqueque, pasukan khusus dan terlatih dipimpin komandan yang ganteng yaitu Arie Tombiberanggotakan Dudunk SakelanArya PurnamaAchmad SolihinNano Setyoko Andro Wp.

Sabtu, 25 Juli 2015

KEMPLING PENGIN NONTON FILM PORNO karya: Yan Hendra

a


Meski usianya sudah jadul ditandai dengan dengkul yang sudah merudul, tapi semangat Kempling
tetap joss. Terlebih dia sudah lama sekali menduda. Terakhir waktu dia masih hobi nonton layar tancap yang bintang utamanya Eva Arnaz dan Suzanna. Meski pulang sampai pagi, bareng dengan tukang kacang rebus dan bandrek, nggak ada yang ngelarang. Sebab Maryatun, sang istri tercinta, sedang asik mengais rezeki di negeri orang. Saking asiknya sampai lupa pulang dan kasi berita, sampai sekarang. Otomatis suplai dana untuk Kempling pun terputus. Saldonya kosong melompong.

Selasa, 21 Juli 2015

JODOH EMANG MAKNYUS karya: Yanuar Hendra



Kisah ini terjadi berpuluh tahun lalu, saat hape belum marak, gadget belum ada, komputer masih jaman DOS dan pentium belum dikenal. Jadi, ya pastinya belum ada facebook, twitter, apalagi instagram. Chatting di BB, WA, Line, dan sebagainya malah belum ada dalam angan-angan. Media online, jangan tanya. Website, blogspot, wordpress, dan sebagainya...kagak ada! Primadona saat itu koran dan majalah. Hii, jadul banget, ya?
***
Netty yang baru menikah minta libur dua hari, dan sebagai partner satu-satunya, mau ga mau ya mesti setuju. Siapa lagi, wong yang jaga toko cuma dua orang. Tapi saat pagi di hari kedua, perempuan pemelihara jerawat itu muncul. Dari balik kacamata tebalnya seperti ada tulisan: please... please...

Senin, 20 Juli 2015

ORANG MISKIN DILARANG MATI karya: Yanuar Hendra



Waktu Kempling bilang emaknya meninggal, sebagai sohib kental, saya langsung terbang ke rumah kontrakannya yang sempit, kumuh, dan sebagian terendam banjir. Tiba di sana beberapa tetangga sudah berkumpul, dan di ruang tamu terlihat jenazah emaknya Kempling terbujur kaku berselimut kain batik panjang. Dua orang kerabat sedang mengaji di dekatnya. Sementara Kempling hanya duduk di dekat mereka dengan kopiah belel warisan bapaknya. Wajahnya yang sangar, tetap tak mampu menyiratkan kesedihan hatinya.
Saya duduk di sebelahnya, ikut diam membisu. Tapi dasar Kempling, diamnya ternyata bukan semata-mata berduka. Buktinya dengan berbisik dia berkata, "Gue bingung buat bayar kontrakan berikutnya. Juga buat makan sehari-hari. Selama ini kan emak yang nanggung..."

Satu lagi persembahan cergo alias cerita gokil dari Musiyem

A Y A M


Menjelang lebaran, Arie Tombi duduk termenung di kandang ayamnya. Dia pandangi ayamnya satu persatu. Ada rasa iba menelusup ke hatinya. Ayam jago yang diberi nama Luther sebentar lagi akan pindah kandang, berpindah ke panci dan menjadi ayam opor. Si Bieber ayam jago abg pun harus masuk wajan menjadi ayam semur. Apa boleh buat THR dari Bos odong-odong Yan Hendra ditunda hingga waktu yang tak ditentukan.
"Rie, cepet potong ayamnya! Ga usah pakai diajak ngobrol!" suara emakZenith Azzura mengagetkannya.
"Iya, Mak! Duh ... tapi kasihan Mak!" jawab Arie sambil memeluk si Luther.
"Halah! Emang itu nasibnya ayam kudu dipotong, udah cepet keburu sore!" Emak Zenith gemes lihat Arie mesra-mesraan sama si Luther.

Minggu, 19 Juli 2015

Puisi-puisi Keprihatinan dan Renungan Sastra Dewita

SATU PERCAKAPAN SENDU SEBELUM HARI FITRI YANG KAN DATANG BERTAMU.

"Bunda ... kuingin baju baru.
Berenda dan berpita kupu-kupu.
Kuingin sepatu merah itu Bunda.
Juga tas mungil berkepala boneka.
Belikan Bunda kuingin seperti mereka
yang tinggal di rumah gedong sana."
"Anakku sayang ... sabar ya nak
Bunda selesaikan cucian ini dulu.
Esok jika upahnya ada akan Bunda belikan nak.
Tapi bukanlah baju berenda dan berpita kupu-kupu cukuplah sehelai baju katun kaki lima seharga tiga puluh lima ribu.
Bukan pula sepatu merah mengkilat itu nak, Bunda hanya bisa belikan sepasang sandal jepit seharga lima belas ribu.
Dan tas berkepala boneka itu buat apa nak jika nanti tak kan terisi apa-apa.
Sabar nak, Bunda hanya berupah seratus ribu.
Tapi esok lebaran kita kan makan enak, Bunda akan membeli tahu dan membuat sambal yang enak, masih ada sisa limapuluh ribu buat hidangan lezat kita nanti.
Nak sabarlah yang penting kau tetap sekolah agar tak menjadi seperti Bunda."
"Bunda ... kapan aku bisa seperti anak-anak itu Bunda, bermain dengan sepeda, berbaju bagus, dengan pita di kepala, tinggal di rumah besar berpagar tinggi duuuh ... pasti senyaman istana."
"Esok, nak jika kau telah menjadi seorang bidan, kau akan seperti mereka memiliki anak-anak yang tak kan pernah merasakan sepertimu maka berjanjilah Nak untuk terus menjadi anak yang pintar agar kau bisa seperti mereka dan Bunda kan terus berjuang tuk mewujudkan mimpimu Nak."
"Bunda ... aku berjanji, aku akan meraih mimpi-mimpiku, aku tak ingin tinggal di emperan-emperan toko ini, aku tak ingin lagi bergumul dengan sampah, aku ingin membelikan Bunda baju yang bagus, aku ingin mengajak Bunda makan di rumah makan dekat pasar itu, aku ingin kita tinggal di rumah yang ada kasurnya Bunda maka restui dan doakan aku selalu Bunda."
" Anakku ... doa Bunda tak akan pernah putus untukmu karena hanya itu lah satu-satunya yang bisa Bunda berikan bagi hidupmu. Hanya setangkup doa milik Bunda yang berharga Nak, sekarang kemarilah sayang ... lelaplah engkau dalam kasih Bunda, esok masih tetap harus kita lalui walau sulit tapi percayalah Tuhan selalu bersama kita."
Bumi Andalas, 18/7/2015
Special to Komunitas Anak Jalanan (KAJ. BUKIT)

Rabu, 15 Juli 2015

NENEKKU MASIH PERAWAN #3 oleh: DUDUNK SAKELAN



SORE yang berselimut kabut. Aku duduk dengan lesu di bawah pohon tomat. Pikiranku benar-benar kacau. Bagaimana tidak, semua teman di Cerpen-Ku menyuruhku mengalah pada nenek. Masa, hanya karena nenek sudah tua, aku harus mengalah? Padahal cinta adalah soal hati---
"Eh, rupanya kamu ada di sini, Dunk? Pantesan saja dicari di kamarnya, nggak ada!" Nenek tiba-tiba sudah bergelayut manja di sebelahku.
Aku mendengus saja. Malas sekali untuk meladeninya. Mending diam seribu bahasa.
"Dunk, besok kan sudah lebaran. Menurut kamu, enaknya Mas Bram dibelikan baju apa, ya?"
Aku kembali mendengus.
"Mas Bram itu ...."
"Alaaa ... Nenek! Mas Bram terus dari tadi yang diomongin?!" Aku berdiri. Lalu, jumpalitan ke atas pohon tomat.
"Dudunk ...! Kamu kenapa, sih? Dari semalam, kok uring-uringan mulu?" Nenek memandangku dengan pandangan cemas, "ayo, turun ...! Nanti jatuh, lho!"