Dropdown

Sabtu, 11 Juli 2015

GARA-GARA NGEJAR BUS

a

Demi seorang brondy mba Musiyem rela mengejar bus kota di akhir senja hari ini, karena takut keduluan sama Hany Juwita dan Percaya Sama Zalika yang berangkat duluan nyewa odong-odong bang Yan Hendra 
Lagian tega amat itu Airi Cha yang sudah diboking ojeknya sampai nggak nongol batang hidungnya ( so...belakangan ketahuan uang bokingannya lagi dibagi-bagiin ke keponakannya sebagai uang THR )
" Awas kamu Cha...sudah gue boking malah nggak dateng..!" gerutu mba Musiyem yang hatinya lagi dongkol sambil loncat naik bis, dan langsung pura-pura ngorok ( biar nggak ditagih ama kondektur maksudnya xixixixi...)
Sementara Hany Juwita dan Percaya Sama Zalika merasa kesel banget sama si abang odong-odong yang semakin lemes ngegoes odong-odong tersebut, yang ternyata Cak Dudunk Sakelan ( ternyata dia lupa ngak minum Jamu Perkasa ramuan Madura bikinan emaknya ).
" Hadeeeeeeuuuuuh lambat banget ni odong-odong " celoteh Hany Juwita sambil melirik Zalika.
" Gampang Ceu Hany....kalau ingin cepat sampai " jawab Zalika sambil membuka dompetnya dan mengeluarkan uang Ratusan ribu itu.
" Buat apa kamu ngeluarin uang ratusan ribu?" kata Hany Juwita
" Ya...buat si abang odong-odonglah biar semangat, demi cinta kadang pengorbanan itu sangat di perlukan, " katanya sambil menyerahkan uang itu ke abang odong-odong.
Melihat DP ratusan ribu, Dudunk Sakelan langsung keluarkan jurus Gowes Seribu Langkah andalannya. Bak taxi Gemah Ripah melaju dengan pesatnya, hanya perlu waktu 20 mnt untuk sampai ke tujuan.dan langsung cari tempat untuk nonton konser .
Sementara mba Musiyem karena kecapek'an ngejar bus langsung tertidur lelap ( tadinya sih,,,hanya pura-pura) pake ngorok lagi hadeuuuuuuh, lagi-lagi kedapatan apes kondektur bus mas Khoirul Muhtaromi .
" Hadeuuuuuh alamat gretongan lagi penumpang yang atu ini pake ngorok lagi, tapi cian banget kalo liat raut wajahnya tanpa dosa gitu melaaaaaas bingits,,,,," gumamnya dalam hati sambil membiarkan mbak Mus terlelap tidur hingga lupa mau nanyain tujuannya hendak kemana. Sampai dua route terlampaui mba Mus belom juga terbangun, akhirnya Mas Khoirul membangunkannya dan menanyakan tujuannya hendak kemana
" Mba bangun,,,,bangun " sambil menepuk pundaknya
Sambil malu-malu meong mba Mus terbangun juga akhirnya dan menjawab pertanyaan mas kondektur itu
" Anu mas,,,eh , anu mbeb haduuuuuuh maaf ya mas mau turun di lapang GASIBU mau lihat konser DIMAS DEWANTARA" jawabnya celinggukan serba salah karena masih belum sadar betul dari tidurnya.
" Oalaaaaaa mba..mba kenapa nggak bilang dari tadi !, Ni udah nyampe terminal Cicaheum !!" jawab kondektur bus.
" Haaaaaaaaaaaah ...jadi aku tadi ketiduran toh?!" jawabnya lagi sambil terisak tangis karena ngak bisa ketemu sama mbeb DIMAS DEWANTARA .
Cmh,11072015

***

MATIR (EMAK TIRI) karya: Airi Cha




Setelah lama mendadu, bos odong-odong memutuskan untuk mencari pendamping hidup yang baru. Bukan karena kejablaian Yan Hendramengambil keputusan ini. Namun lebih di karenakan rasa sayang kepada anak-anaknya yang sudah tak beribu. Lalu Yan mengumpulkan keempat anaknya untuk meminta persetujuan mereka.
"Bagaimana menurut kalian jika abah menikah lagi?" tanya abah kepada keempat buah pisangnya, hihihi ... hati maksudnya.
Keempat anaknya, Dudunk SakelanDimaz DewantaraHany Juwita danPercaya Sama Zalika hanya saling pandang satu sama lain.
"Kok pada diam?" Abah sedikit heran."Apa tidak setuju?" tanyanya lagi.
"Kami setuju, Bah!" Tiba-tiba serentak keempat anaknya menjawab.
"Baiklah jika begitu, tidak perlu berlama-lama.  Minggu depan abah menikah." Mantap abah berkata.

Jumat, 10 Juli 2015

THR karya: Airi Cha


Entah mengapa hari ini di istana Cerpen_Ku, banyak rakyat antri di depan pintu gerbang. Penjaga pintu gerbang Dudunk Sakelan sampai-sampai kewalahan menghadapi hal ini. Entah apa yang mereka inginkan. Situasi ini tak urung membuat Dudunk pucing pala entok.
Terlihat antrian paling depan ada Mj Tinx, di belakangnya Saeful Nak Bacty. Selanjutnya Shobikhul Irfan lalu Rossi. Kemudian Zenith AzzuraSastra Dewita Senja Kelabu Ani Sugiharto Agus Bilowo Andro Wp Lukman Hakim Cahyo Wibowo. Terlihat juga Nano Setyoko Linda Puspita SariHersan Tosa Alie Alhamdulillah Dhenok Raharjo. Serta yang terheboh Musiyem dan masih banyak lagi.
Hatiku bertanya-tanya ada apa gerangan. Walau aku tidak ikut antri namun aku tetap mengawasi jalannya cerita. Mana sinar matahari begitu menyengat di kulit tapi mereka tetap semangat empat lima.
"Duh, prajurit Dudunk, kapan lagi gerbang terbuka?!" teriak Musiyem dari urutan antri yang kesekian.
"Iya, Pak Dudunk!" Tinx menimpali sembari memijit-mijit kakinya yang pegal karena sudah antri dari pagi.
"Iya,! Iyaa,! Iyaaaa ....!" sahut massa berbarengan. Dudunk semakin bingung menghadapi rakyat Cerpen_Ku. Untung segera datang Panglima brondy Dimaz Dewantara yang dipuja Musi setengah idup setengah mati. Disusul hadirnya patih bijaksana Khoirul Muhtaromi sertaTedy Maulana Ibrahim Pengawal kepercayaan raja Yan Hendra. LaluAchmad Solihin sang kiayi kerajaan.
Suasana menjadi iruk pikuk layaknya pasar ikan.
"Tenang ...! Tenang rakyat sekalian.!" himbau Khoirul mencoba menenangkan massa. Seketika suasana menjadi hening seperti di kuburan, demi mendengar suara nan arif bijaksana.
"Ada maksud apa saudara sekalian hadir di istana ini?" tanya sang patih.
"Mau ambil THR, Om Patih." Lugu Tinx menjawab.
"THR?" Berkerut kening sang patih mendengar jawaban Tinx.
"Iya, Patih. THR-ku Panglima Dimaz juga nggak mengapa," timpal Musi tersapu-sapu.
"Patih aku minta pupuk 500 karung buat sawitku." Nano berseru dari antrian.
"Saya pempres aja sebanyak tiga kereta kuda patih. Buat Bagas jagoan saya." Cahyo tak mau ketinggalan mengaju permintaan.
Saya ini, saya itu, saya ngono, saya ngene. Bagai dengungan tawon pindah terasa suara rakyat Cerpenku di telinga ini.
"Sabar-sabar! Mengapa kalian meminta THR ke istana ini?" tanya sang patih.
Suasana kembali hening.
"Kan ada himbauanya patih." Kali ini Dhenok angkat bicara.
"Himbauan?" gumam sang pathi sambil ngelus jenggot yang hanya tiga helai.
"Iya patih, kemarin disampaikan oleh penyiar berita istana Hany Juwitadan Percaya Sama Zalika. Katanya kita boleh minta apa saja," cerocos Musi pajang kali lebar.
"Tidak benar itu. Sekarang bubar!" perintah sang patih. Massa mulai ribut.
"Bubaaaarrrrrrr!" Kenceng teriakan sang patih. Namun massa tetap bertahan.
Aku beringsut mendekati massa.
"Ayo, pada pulang!" bujukku pada mereka.
"Lantas siapa yang tanggung jawab atas waktu kita yang terbuang Mbak Cha?" Pertanyaan itu meluncur dari bibir Era.
"Iya mbak." Linda menimpali.
"Mbak Hany dan Zalika!" sahutku mantap.
"Oke kemon semua!" komando mbak Zura sembari nangkring di atas punggung Macannya yang bernama Maung.
Arak-arakan massa menuju rumah sang pembuat onar. Tanpa disengaja mereka berpapasan dengan dua mahluk jail itu. Terlihat Hany dan Zalika cekikikkan penuh kemenangan. Seketika tawa mereka terhenti berganti wajah yang pucat pasi.
"Serrrrrbbbuuuuuu!" komando Zura.
"La la larrriiii,  Za!" teriak Hany memberi aba-aba pada sohibnya.
"Kutukupreeeettttt ! Jangan lari Hany!" Musi teriak histeris.
Akhirnya terjadilah kejar-kejaran massa yang tak seimbang. Dari pada capek, aku memilih ngaso di bawah pohon tomat milik prajurit Dudunk. Nunggu hingga waktu berbuka tiba.

Bilik Airi, 10 Juli 15

***

ANOMALI KEMATIAN


Bisakah kamu merasakan debar jantung dan piasnya wajah saat seorang Dokter memvonis umurmu hanya tinggal beberapa tahun lagi?
Umur yang sebenarnya adalah kuasa Yang Kuasa menentukan kini harus terdengar dari mulut seorang Dokter ... seorang manusia.
Awal mula mendengarnya serasa jantung memang mendadak berhenti pada saat itu juga. Raga sudah tak terasa bersemayam lagi di dalam jiwa.
Terasa sulit untuk menerima sebuah kenyataan bahwa nikmat hidup itu hanya tinggal beberapa depa hanya karena sakit yang begitu nyaman bercokol di kepala.
Saat itu ingin rasanya berteriak sekeras kerasnya, tapi untuk apa?
atau berlari sejauh jauhnya, tapi kemana?
Namun entah mengapa seolah ada kekuatan dasyat mengempas pada sebuah kenyataan bahwa betapa beruntungnya nikmat yang diberi oleh Sang Pencipta dikala semua orang menantikan waktu kematiannya tanpa ada kepastian maka dengan kemurahan hatiNya, waktu itu telah terpetakan.
Memberi kesempatan untuk mengisi waktu yang tersisa dengan segala sesuatu yang kelak menjadi bekal di alam sana.
Terkadang merasa heran, saat orang-orang merasa takut dengan kematian, padahal apa yang harus ditakutkan malah kalau dipikirkan kematian adalah sesuatu hal yang indah karena ia adalah pemutus jalan dosa di dunia untuk menemui keagungan Sang Pencipta.
Bukankah itu tujuan kita pada akhirnya yaitu menuntaskan rindu pada yang telah menciptakan kita.
Jadi tak perlu takut dengan kematian, hadapi dengan senyum ikhlas karena sekarang, besok ataupun nanti ia akan datang menjemput raga dan itu pasti adanya.

Bumi Andalas, 10/7/2015

AKU MATI

12 jam · 
Setiap makhluk hidup pasti akan mati. Begitu juga denganku. Namun kapan, aku sendiri tak tahu. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui, sementara kita tidak. Entah apa yang ada di pikiranku, malam ini aku tak bisa tidur karena perasaan takut terus menghantuiku. Aku pun meng-inbox Mj, temanku, rumahnya persis di sebelah rumahku.
“Pas banget, nih! Jam segini, Mj pasti lagi main facebook,” gumamku. Pesan aku kirim.
Plung …! “Mj, ke rumahku sekarang, ya? GPL!” isi pesan inbox-ku.
Tak lama kemudian, Mj pun datang. Aku membuka pintu rumah, dan menyuruhnya masuk. Kami berdua duduk di ruang tengah, mengingat waktu sudah semakin malam.
“Ada apa, sih? Tumben kamu inbox aku, biasanya langsung telpon?” tanya Mj sembari menikmati getuk goreng sokaraja teh manis yang aku hidangkan.
“Aku mau curhat, penting!” jawabku singkat.
“Curhat apa? Kamu punya pacar baru, ya? Oh … jangan-jangan dapat THR banyak, ya? Eh, bukan bukan, kamu pas-“
“Pastinya bukan itu yang mau aku omongin, Mjjjj …!” ucapku dengan nada tinggi. “Aku tadi malam mimpi, Ji. Dalam mimpi itu, aku mati. Kulihat ibu dan keluargaku manangisi kematianku. Aku berusaha berkata dan berteriak tapi mereka tak bisa mendengarku, apalagi melihatku. Kau tahu tak, apa arti mimpi itu?” aku mulai curhat.
Mj terdiam, kulihat dia mulai berpikir. Pandangannya menengok kesana-kemari.
“Emmm … aku nggak tahu arti mimpimu itu, Kay!” Mj mengelengkan kepalanya.
“Aku bingung, nih! Aku takut!”
Air mata mulai bergulir di kedua pipiku.
“Jangan takut Kayla, ada aku,” Mj menghapus air mataku, lalu memelukku. “Oh, ya. Kau masih ingat, tak? Kamu pernah berkata, ‘kapan ya, aku akan berhijab?’, masih inget, nggak?” Mj mengingatkan perkataanku tahun lalu.
Aku melepas pelukannya. “Aku masih ingat, Ji. Apakah mimpiku merupakan hidayah-Nya, agar aku cepat-cepat berhijab?”
“Ya!” jawab Mj mantap. “Ini waktu yang pas, di bulan Ramadhan lagi. Aku akan mendukungmu, Sob,” sambungnya.
“Baiklah, semoga jalan yang aku pilih benar. Insya Allah, setelah Ramadhan aku akan berhijab. Mudah-mudahan Allah akan senantiasa memberi jalan kemudahan untukku, juga untukmu, Mj.”
“Amin ... aku mendukungmu, Kay!” Mj memberikan kedua jempolnya kepadaku.
Kulihat Mj dah menguap, sepertinya dia sudah mengantuk.
“Ya, sudah. Makasih ya, Mj. Kamu selalu membantuku.”
“Ya, sama-sama. Membantu sebisaku saja, kok! Aku anak kemarin, ilmuku hanya seumur jagung, he …,” Mj tersenyum. “Aku pulang dulu, ya? Dah ngantuk, takut besok sahurnya telat.”
“Iya,” lempar senyum.
Aku mengantar Mj sampai depan rumah. Setelah itu, masuk rumah dan tidur. Tak lupa berdoa supaya tidak mimpi buruk.

Oleh: Mj
10 Juli 2015
***

MISTERI KEMATIAN

SUDAH beberapa minggu bibiku sakit. Maklumlah usianya sudah lanjud. Nurdin, anaknya, dengan telaten merawatnya. Meskipun anak laki-laki, ia tidak pernah merasa malas apalagi malu. Ia benar-benar anak yang berbakti.
Dalam sehari-harinya, pekerjaan Nurdin adalah membuat minyak dari biji nyamplung. Aku sendiri tidak tahu, untuk apa minyak itu. Namun yang jelas ada pengepul yang mengulaknya.
Kehidupan Nurdin dan ibunya sangat sederhana. Bahkan bisa dikatakan serba kekurangan. Apalagi sejak ibunya sakit.
Beberapa hari ini, ibu Nurdin sakit keras. Nurdin tidak bisa bekerja karena menunggui ibunya. Famili dan tetangganya pun silih berganti berdatangan. Cuma saja tidak sampai bermalam. Jadi, bila malam sudah beranjak larut, dan semua orang yang menjenguk sudah pulang, Nurdin sendirian menjaga ibunya.
Suatu pagi, tiba-tiba dikejutkan oleh berita tentang Nurdin yang meninggal dunia. Semua orang, termasuk aku, mulanya tidak percaya. Sebab yang sakit bukan Nurdin, tapi ibunya. Setahuku, NUrdin sehat-sehat saja.
Menurut tetangga yang memberitakan, Nudir disangkanya tidur saja di dekat ibunya. Setelah dibangunkan tidak bangun-bangun, tahulah bahwa Nurdin sudah tidak benapas. Ia meninggal di sebelah ibunya yang sedang sakit keras. Sementara ibunya seiring waktu yang berputar, sehat kembali.***
Bumi Kerapan, 100715
(berdasarkan kisah nyata, hanya nama tokohnya fiktif)

RINDU





Aku mengingatmu, merindukanmu... 
Datanglah dan dekaplah cintaku
Aku menembus lorong waktu
Meniti selembar mimpi
Karena rinduku padamu
Bilakah kita bersua di mahligai asmara
Melepas segala rasa yang membuncah di dada
Menyatukan raga dalam peluh cinta
Mengecup rindu di altar bahagia

Bdg love story, 100715

KODOK SILUMAN

‪##anomali_kematian

Saat itu aku dan dua orang teman begoku tengah asik mengobrol mengenai desas-desus kematian tetangga kami yang bernawa Jujarwo.
Santer terdenger Jujarwo tewas diterkam kodok jadi-jadian. Kodok ini bukan sembarang kodok, kata orang pintar yang tengah menyelediki kasus Jujarwo. Kodok siluman tersebu sangat besar, bahkan lebih besar dari rumah joglo si Udin anak pak lurah.
"Serius Ton? No tipu-tipu, kan!" gumam Mahmud penasaran.
"Duarius sinatria, Mud. Sueer dah Mud, masa iya gue boongin elu. Lu tau ndiri kan, kalo gue ini ganteng maksimal pacman emotikon " kataku dengan sedikit becanda.
"Woii, jangan main-main ah. Lu tau kan penyakit gue, gue tuh parno sama ginian," timpal Beki yang mulai gelisah dan berkeringat dingin.
"Hahahaha... Mamfus lu pada, ngompol-ngompol dah," Aku tertawa diatas penderitaan dua orang temanku.
"Ton, dibelakangmu tuh," tunjuk Beki dengan nada bicara yang amat ketakutan: badannya bergetar dan mulutnya menganga lebar.
"Apaan sih, Bek? Jangan nakutin gitu, ah. Kok lu jadi ikut-ikutan si Tonie, sih!" gerutu Mahmud sembari mencoba menengok ke belakang dengan pelan. Hal yang sama juga dilakukan oleh Tonie yang kebetulan duduk disebelah Mahmud.
*Gleek!* Mahmud dan Tonie hanya bisa menelan ludah tanpa bisa berkata-kata. Sesosok mahluk bertubuh Megazord telah menanti mereka dengan lidah yang menjulur-julur. Ternyata desas-desus itu benar adanya. Mahluk berparas kodok itu sungguh seram sekali. Lebih seram dari Mama Godzilla.
"Gue takut nih, Ton!" Lirik Mahmud padaku.
"Gue apa lagi, kabur nyok!" ajakku.
"Nyok ahh, buruan. Gue udah nahan pipis nih!" timpal Beki gusar.
"Oke dalam hitungan ketiga kita kabur bareng, ya!" kataku kepada Beki dan Mahmud.
"Oke, siip!" kata mereka berdua kompak.
"SAAA..SAAT... TIGAAAA! pacman emotikon " kataku keras sembari berlari sekencang mungkin. Disusul Mahmud dan Beki dibelakangku.
"EMAAAAK!" Kami bertiga lari terbirit-birit, meninggalkan TKP yang terbilang angker itu gasp emotikon .

TAMAT

Pesanku :
NEK WANI AJA WEDI-WEDI,
NEK WEDI AJA WANI-WANI
(Kalo berani jangan takut2, kalo takut jangan berani2. Udah tau tempat angker malah bicara yang tidak2, giliran yang diomongin muncul malah langsung ngibrit :v

MUSIYEM DAN PENDERITAAN YANG TIADA HENTI-HENTINYA

a


Mungkin tidak ada yang mengira kalau sebenarnya menjadi brondinya Musiyem itu selalu makan hati. Bagaimana tidak, tiap kali ngajak ketemuan musthi selalu garing dan pahit. Boro-boro bakso, es teh atau minuman yang harganya seribu pun nggak keluar. Selalu saja dia bawa botol aqua yang diisi dari rumah. Sudah gitu diminum berdua. Itu pun aku terpaksa sebab tenggorokan rasanya sudah seperti kemarau berkepanjangan.
Sebenarnya sih dari dulu aku naksir sama adiknya Musiyem, Sastra Dewita itu, tetapi emaknya, aduh sampai nangis-nangis mendatangiku.
“Nak, Dimas, tolong, tolong saya, pokoknya kamu harus mau sama Musiyem, yah!” katanya menghiba
“Bi, aku lebih suka sama adiknya!” ujarku yang selalu memanggil emak Musiyem dengan sebutan bibi
“Nak Dimas, sekali lagi saya minta tolong, soalnya kamu tahu sendiri, kan Musiyem itu suka kejang-kejang, ayannya suka kambuh kalau tidak dituruti.” Emak Musiyem matanya mulai berkaca-kaca. Dalam pada itu, sungguh aku tak tega sekali melihatnya.
“Tapi, Bi …” selaku
“Tapi, apa,Nak Dimas?” tanyanya cemas
“Boleh, aku mengajukan syarat, Bi?”
“Apapun yang Nak Dimas mau akan saya turuti, asal Nak Dimas mau yah jadi brondinya Musiyem”
“Begini, Bi, oke aku mau, tapi ini hanya pura-pura saja, soalnya aku sudah kadung sama sastra Dewita, Bi!”
“Ya, sudah, tidak apa-apa, asalkan Musiyem senang, tapi bagaimana dengan Sastra Dewitanya, Nak Dimas?”
“Tenang saja, Bi, dia sudah tahu kok, dan asal bibi tahu yah aku dan dia sudah sama-sama oke”
“Baiklah, Nak Dimas, terima kasih yah atas pengertiannya”
“Sama-sama, Bi”
Emak Musiyem pun pamit, namun sebelum beranjak pergi, kami mendengar suara piring dibanting-banting, setelah itu berganti menjadi suara orang teriak-teriak, sebelum pada akhirnya menjadi suara seperti sapi yang sedang di potong. Tenyata suara itu berasal dari dapur yang tak lain adalah Musiyem. Rupanya sedari tadi dia nguping pembicaraanku dan emaknya di dapur. Walhasil ayannya pun kambuh sampai paling akut … gkgkgk!

***