a
Mungkin tidak ada yang mengira kalau sebenarnya menjadi brondinya Musiyem itu selalu makan hati. Bagaimana tidak, tiap kali ngajak ketemuan musthi selalu garing dan pahit. Boro-boro bakso, es teh atau minuman yang harganya seribu pun nggak keluar. Selalu saja dia bawa botol aqua yang diisi dari rumah. Sudah gitu diminum berdua. Itu pun aku terpaksa sebab tenggorokan rasanya sudah seperti kemarau berkepanjangan.
Sebenarnya sih dari dulu aku naksir sama adiknya Musiyem, Sastra Dewita itu, tetapi emaknya, aduh sampai nangis-nangis mendatangiku.
“Nak, Dimas, tolong, tolong saya, pokoknya kamu harus mau sama Musiyem, yah!” katanya menghiba
“Bi, aku lebih suka sama adiknya!” ujarku yang selalu memanggil emak Musiyem dengan sebutan bibi
“Nak Dimas, sekali lagi saya minta tolong, soalnya kamu tahu sendiri, kan Musiyem itu suka kejang-kejang, ayannya suka kambuh kalau tidak dituruti.” Emak Musiyem matanya mulai berkaca-kaca. Dalam pada itu, sungguh aku tak tega sekali melihatnya.
“Tapi, Bi …” selaku
“Tapi, apa,Nak Dimas?” tanyanya cemas
“Boleh, aku mengajukan syarat, Bi?”
“Apapun yang Nak Dimas mau akan saya turuti, asal Nak Dimas mau yah jadi brondinya Musiyem”
“Begini, Bi, oke aku mau, tapi ini hanya pura-pura saja, soalnya aku sudah kadung sama sastra Dewita, Bi!”
“Ya, sudah, tidak apa-apa, asalkan Musiyem senang, tapi bagaimana dengan Sastra Dewitanya, Nak Dimas?”
“Tenang saja, Bi, dia sudah tahu kok, dan asal bibi tahu yah aku dan dia sudah sama-sama oke”
“Baiklah, Nak Dimas, terima kasih yah atas pengertiannya”
“Sama-sama, Bi”
Emak Musiyem pun pamit, namun sebelum beranjak pergi, kami mendengar suara piring dibanting-banting, setelah itu berganti menjadi suara orang teriak-teriak, sebelum pada akhirnya menjadi suara seperti sapi yang sedang di potong. Tenyata suara itu berasal dari dapur yang tak lain adalah Musiyem. Rupanya sedari tadi dia nguping pembicaraanku dan emaknya di dapur. Walhasil ayannya pun kambuh sampai paling akut … gkgkgk!
***
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar