Dropdown

Jumat, 10 Juli 2015

AKU MATI

12 jam · 
Setiap makhluk hidup pasti akan mati. Begitu juga denganku. Namun kapan, aku sendiri tak tahu. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui, sementara kita tidak. Entah apa yang ada di pikiranku, malam ini aku tak bisa tidur karena perasaan takut terus menghantuiku. Aku pun meng-inbox Mj, temanku, rumahnya persis di sebelah rumahku.
“Pas banget, nih! Jam segini, Mj pasti lagi main facebook,” gumamku. Pesan aku kirim.
Plung …! “Mj, ke rumahku sekarang, ya? GPL!” isi pesan inbox-ku.
Tak lama kemudian, Mj pun datang. Aku membuka pintu rumah, dan menyuruhnya masuk. Kami berdua duduk di ruang tengah, mengingat waktu sudah semakin malam.
“Ada apa, sih? Tumben kamu inbox aku, biasanya langsung telpon?” tanya Mj sembari menikmati getuk goreng sokaraja teh manis yang aku hidangkan.
“Aku mau curhat, penting!” jawabku singkat.
“Curhat apa? Kamu punya pacar baru, ya? Oh … jangan-jangan dapat THR banyak, ya? Eh, bukan bukan, kamu pas-“
“Pastinya bukan itu yang mau aku omongin, Mjjjj …!” ucapku dengan nada tinggi. “Aku tadi malam mimpi, Ji. Dalam mimpi itu, aku mati. Kulihat ibu dan keluargaku manangisi kematianku. Aku berusaha berkata dan berteriak tapi mereka tak bisa mendengarku, apalagi melihatku. Kau tahu tak, apa arti mimpi itu?” aku mulai curhat.
Mj terdiam, kulihat dia mulai berpikir. Pandangannya menengok kesana-kemari.
“Emmm … aku nggak tahu arti mimpimu itu, Kay!” Mj mengelengkan kepalanya.
“Aku bingung, nih! Aku takut!”
Air mata mulai bergulir di kedua pipiku.
“Jangan takut Kayla, ada aku,” Mj menghapus air mataku, lalu memelukku. “Oh, ya. Kau masih ingat, tak? Kamu pernah berkata, ‘kapan ya, aku akan berhijab?’, masih inget, nggak?” Mj mengingatkan perkataanku tahun lalu.
Aku melepas pelukannya. “Aku masih ingat, Ji. Apakah mimpiku merupakan hidayah-Nya, agar aku cepat-cepat berhijab?”
“Ya!” jawab Mj mantap. “Ini waktu yang pas, di bulan Ramadhan lagi. Aku akan mendukungmu, Sob,” sambungnya.
“Baiklah, semoga jalan yang aku pilih benar. Insya Allah, setelah Ramadhan aku akan berhijab. Mudah-mudahan Allah akan senantiasa memberi jalan kemudahan untukku, juga untukmu, Mj.”
“Amin ... aku mendukungmu, Kay!” Mj memberikan kedua jempolnya kepadaku.
Kulihat Mj dah menguap, sepertinya dia sudah mengantuk.
“Ya, sudah. Makasih ya, Mj. Kamu selalu membantuku.”
“Ya, sama-sama. Membantu sebisaku saja, kok! Aku anak kemarin, ilmuku hanya seumur jagung, he …,” Mj tersenyum. “Aku pulang dulu, ya? Dah ngantuk, takut besok sahurnya telat.”
“Iya,” lempar senyum.
Aku mengantar Mj sampai depan rumah. Setelah itu, masuk rumah dan tidur. Tak lupa berdoa supaya tidak mimpi buruk.

Oleh: Mj
10 Juli 2015
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar