Situasinya
sudah gawat darurat! Tidak bisa ditoleran lagi. Beberapa kebun pisang habis
digondol. Digebah dengan bungkalan tanah, mereka mengernyitkan dahi, lalu
serentak turun, kemudian mengambil apa saja yang ditemukan untuk balas melempar.
Keruan saja, para petani tak mampu melawanan, terpaksa lari tunggang-langgang.
Kempling
pulang mendengar cerita saudaranya itu. Berbekal senapan buru, dan alat
penjebak, dia mengatur siasat. Usai subuh, ia pergi ke kebun, dan menunggu
beberapa lama di balik kamuflase dedaunan, setelah memasang jebakan. Ketika
matahari melempar selendang cahaya ke kebun, yang ditunggu pun datang.
Sekawanan
monyet berloncatan dari satu dahan ke dahan pohon lain sambil mengeluarkan
suara riuh ( siapa yang bisa menirukan suaranya, boleh ngacung). Sasaran mereka
adalah kebun singkong Mang Karta. Cara mereka mencabutnya sungguh unik. Sang
pohon mereka goyang ke sana-kemari, lalu dua diantaranya saling membelakangi.
Mereka goyang-goyang lagi sambil ditarik ke atas. Bila batang singkong dirasa
besar, maka butuh tiga sampai empat ekor yang melakukannya, dan... tetap
menarik dari belakang.
Diantara
kawanan itu ada beberapa yang enggan kerja keras, dan mencari sesuatu yang
mudah diperoleh. Seekor diantaranya melihat dua buah pisang di dekat rerimbunan
semak. Dia melirik teman-temannya... tak ada yang lihat. “Bagus, untukku
sendiri!” pikirnya.
”Hup!” Sang
monyet lompat meraih pisang. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat
ditolak... begitu menjejak sasaran, tiba-tiba saja dia dikurung jeruji besi.
Sang monyet tertegun, sebelum kedua tangannya mencengkeram bilah-bilah
pengurungnya, lalu digoyang-goyang sambil berteriak histeris (siapa yang bisa
jadi pengisi suaranya, ya? J )Kejadian itu mengejutkan kawanannya. Serentak mereka
berloncatan memberi bantuan.
“Duaaarrr!
Duaaarrr...!” Kempling tak kalah sigap. Dia yang sejak tadi sudah siaga
mengawasi, langsung keluarkan tembakan. Kawanan monyet hentikan langkah.
Sebagian berbalik dan kabur. Sebagian lagi clingak-clinguk mencari si pembuat
suara letusan, sementara sisanya mengeluarkan geraman mengancam. Tapi saat
Kempling muncul, dan melepaskan tembakan kedua, kawananan itu tanpa dikomando
lari serabutan. Tembakan ketiga dilepaskan Kempling, untuk membuat nyali monyet
yang tersisa ciut dan tunggang-langgang meninggalkan tempat itu.
Setelah
kawanan itu pergi, dia menghampiri si korban. Sang monyet mengernyitkan dahi,
menggeram dan memperlihatkan gigi-gigi tajam. Suara ancaman dan sikap
menggertak, sama sekali tak membuat Kempling keder. Sebaliknya dia berjongkok,
balas menatap si monyet sambil tersenyum, dan berkata lirih, “Kalau kau tak mau
diam, maka kuberikan pada Haris Gibran. Tahu siapa dia? Di tangannya tubuhmu
akan dikuliti, kepalamu dibelah dan otakmu disedot, lalu kau dipanggang hingga
keluar minyak untuk diolesi pada kumisnya... ngerti?!”
“Nguuk!” Si
monyet seperti tersedak. Warna kulit muka yang semula kemerahan, kini memucat.
Ekspresi garang berganti ciut, memelas, dan minta dikasihani. “Ya sudah, kalau
mau selamat, diamlah. Nanti kau akan kulepas,” lanjut Kempling seraya
mengeluarkan cat piloks warna merah, dan langsung menyemprot si monyet dari
beberapa sudut, hingga seluruh tubuhnya terwarnai. “Tarrraaaa...! Sekarang kau
berubah menjadi monyet paling ganteng sedunia. Sun Go Kong pun kalah. Kau
adalah Funky Monkey yang pertama. Cewek-cewek monyet pasti tergila-gila.
Sekarang kita tunggu saja, teman-temanmu pasti datang melihat keadaanmu.”
Mereka
menunggu lebih dari dua jam, dan perkiraan Kempling tak meleset. Dari jauh,
diantara rerimbunan pohon-pohon besar, dia melihat daun-daunnya bergerak tanpa
tiupan angin. Kawanan itu agaknya hati-hati, dan tak mau terekspos. Mereka
mengintai, sambil memantau situasi. Saat yang tepat melepas si monyet berpiloks
merah. “Ayo, keluar. Pergi dan kembali pada kawan-kawanmu. Cari monyet
tercantik, kawini dia, dan pergilah dari sini sejauh-jauhnya!” katanya
menggebah. Si monyet keluar, memandang sejenak padanya. Kempling sulit
menafsirkan, apakah itu ungkapan terima kasih, atau menyumpahinya. Tetapi
sejurus kemudian dilihatnya sang monyet berlari ke satu jurusan, lompat ke satu
pohon kecil, untuk kemudian lompat lagi ke pohon yang lebih besar sambil
memperdengarkan suara lengkingan, yang mungkin artinya, “Aku datang,
kawan-kawaaaan...!”
“Hu hu hu
haaa...! Hu hu haa...!” teriak beberapa monyet keluar dari persembunyian,
menyambut kawannya dengan sukacita. Namun saat jarak pandang semakin dekat,
kawanan monyet mengeluarkan lengkingan aneh. Kesannya gaduh, kacau, dan panik.
Sedikit demi sedikit mereka berloncatan mundur, seolah ada ancaman.
“Siapa kau?
Pergiii...!” bentak seekor monyet, galak.
“Aku temanmu...!”
“Pergi! Kami tidak punya teman sepertimu, ayo pergi!”
“Aku temanmu...!”
“Pergi! Kami tidak punya teman sepertimu, ayo pergi!”
Alih-alih
pergi, si monyet merah semakin bernafsu mendekati kawanannya seakan hendak
membuktikan dirinya bagian dari mereka. Hal sebaliknya terjadi, kawanan itu
melihat ada spesies baru yang coba mengancam keselamatan dan belum diketahui
kekuatannya. Seekor ini pasti pancingan. Mungkin saja teman-temannya sudah
mengepung, dan entah berapa banyak jumlahnya. Hal itu membuat mereka memilih
menghindar. Namun si monyet merah terus mengejar untuk membuktikan
eksistensinya, dan semakin bernafsu dirinya, maka semakin cepat pula kawanannya
berloncatan lari masuk ke dalam hutan menghindarinya.
Demikianlah,
kejar-kejaran antara monyet merah dan kawanannya entah berlangsung sampai di
mana dan sejauh apa. Mang Karta dan beberapa petani lain tak pernah lagi
melihat kawanan monyet itu lagi, setidaknya untuk beberapa bulan ini.
***
Jkt, 04022015
Pertama :)
BalasHapusIya ...
BalasHapuskeren pak.. :)
BalasHapusMakasih ya, Sob ....
BalasHapus