Dropdown

Senin, 22 Juni 2015

MONYET MERAH

Karya: Yan Hendra

Situasinya sudah gawat darurat! Tidak bisa ditoleran lagi. Beberapa kebun pisang habis digondol. Digebah dengan bungkalan tanah, mereka mengernyitkan dahi, lalu serentak turun, kemudian mengambil apa saja yang ditemukan untuk balas melempar. Keruan saja, para petani tak mampu melawanan, terpaksa lari tunggang-langgang.
Kempling pulang mendengar cerita saudaranya itu. Berbekal senapan buru, dan alat penjebak, dia mengatur siasat. Usai subuh, ia pergi ke kebun, dan menunggu beberapa lama di balik kamuflase dedaunan, setelah memasang jebakan. Ketika matahari melempar selendang cahaya ke kebun, yang ditunggu pun datang.
Sekawanan monyet berloncatan dari satu dahan ke dahan pohon lain sambil mengeluarkan suara riuh ( siapa yang bisa menirukan suaranya, boleh ngacung). Sasaran mereka adalah kebun singkong Mang Karta. Cara mereka mencabutnya sungguh unik. Sang pohon mereka goyang ke sana-kemari, lalu dua diantaranya saling membelakangi. Mereka goyang-goyang lagi sambil ditarik ke atas. Bila batang singkong dirasa besar, maka butuh tiga sampai empat ekor yang melakukannya, dan... tetap menarik dari belakang.
Diantara kawanan itu ada beberapa yang enggan kerja keras, dan mencari sesuatu yang mudah diperoleh. Seekor diantaranya melihat dua buah pisang di dekat rerimbunan semak. Dia melirik teman-temannya... tak ada yang lihat. “Bagus, untukku sendiri!” pikirnya.
”Hup!” Sang monyet lompat meraih pisang. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak... begitu menjejak sasaran, tiba-tiba saja dia dikurung jeruji besi. Sang monyet tertegun, sebelum kedua tangannya mencengkeram bilah-bilah pengurungnya, lalu digoyang-goyang sambil berteriak histeris (siapa yang bisa jadi pengisi suaranya, ya? J )Kejadian itu mengejutkan kawanannya. Serentak mereka berloncatan memberi bantuan.
“Duaaarrr! Duaaarrr...!” Kempling tak kalah sigap. Dia yang sejak tadi sudah siaga mengawasi, langsung keluarkan tembakan. Kawanan monyet hentikan langkah. Sebagian berbalik dan kabur. Sebagian lagi clingak-clinguk mencari si pembuat suara letusan, sementara sisanya mengeluarkan geraman mengancam. Tapi saat Kempling muncul, dan melepaskan tembakan kedua, kawananan itu tanpa dikomando lari serabutan. Tembakan ketiga dilepaskan Kempling, untuk membuat nyali monyet yang tersisa ciut dan tunggang-langgang meninggalkan tempat itu.
Setelah kawanan itu pergi, dia menghampiri si korban. Sang monyet mengernyitkan dahi, menggeram dan memperlihatkan gigi-gigi tajam. Suara ancaman dan sikap menggertak, sama sekali tak membuat Kempling keder. Sebaliknya dia berjongkok, balas menatap si monyet sambil tersenyum, dan berkata lirih, “Kalau kau tak mau diam, maka kuberikan pada Haris Gibran. Tahu siapa dia? Di tangannya tubuhmu akan dikuliti, kepalamu dibelah dan otakmu disedot, lalu kau dipanggang hingga keluar minyak untuk diolesi pada kumisnya... ngerti?!”
“Nguuk!” Si monyet seperti tersedak. Warna kulit muka yang semula kemerahan, kini memucat. Ekspresi garang berganti ciut, memelas, dan minta dikasihani. “Ya sudah, kalau mau selamat, diamlah. Nanti kau akan kulepas,” lanjut Kempling seraya mengeluarkan cat piloks warna merah, dan langsung menyemprot si monyet dari beberapa sudut, hingga seluruh tubuhnya terwarnai. “Tarrraaaa...! Sekarang kau berubah menjadi monyet paling ganteng sedunia. Sun Go Kong pun kalah. Kau adalah Funky Monkey yang pertama. Cewek-cewek monyet pasti tergila-gila. Sekarang kita tunggu saja, teman-temanmu pasti datang melihat keadaanmu.”
Mereka menunggu lebih dari dua jam, dan perkiraan Kempling tak meleset. Dari jauh, diantara rerimbunan pohon-pohon besar, dia melihat daun-daunnya bergerak tanpa tiupan angin. Kawanan itu agaknya hati-hati, dan tak mau terekspos. Mereka mengintai, sambil memantau situasi. Saat yang tepat melepas si monyet berpiloks merah. “Ayo, keluar. Pergi dan kembali pada kawan-kawanmu. Cari monyet tercantik, kawini dia, dan pergilah dari sini sejauh-jauhnya!” katanya menggebah. Si monyet keluar, memandang sejenak padanya. Kempling sulit menafsirkan, apakah itu ungkapan terima kasih, atau menyumpahinya. Tetapi sejurus kemudian dilihatnya sang monyet berlari ke satu jurusan, lompat ke satu pohon kecil, untuk kemudian lompat lagi ke pohon yang lebih besar sambil memperdengarkan suara lengkingan, yang mungkin artinya, “Aku datang, kawan-kawaaaan...!”
“Hu hu hu haaa...! Hu hu haa...!” teriak beberapa monyet keluar dari persembunyian, menyambut kawannya dengan sukacita. Namun saat jarak pandang semakin dekat, kawanan monyet mengeluarkan lengkingan aneh. Kesannya gaduh, kacau, dan panik. Sedikit demi sedikit mereka berloncatan mundur, seolah ada ancaman.
“Siapa kau? Pergiii...!” bentak seekor monyet, galak.
“Aku temanmu...!”
“Pergi! Kami tidak punya teman sepertimu, ayo pergi!”
Alih-alih pergi, si monyet merah semakin bernafsu mendekati kawanannya seakan hendak membuktikan dirinya bagian dari mereka. Hal sebaliknya terjadi, kawanan itu melihat ada spesies baru yang coba mengancam keselamatan dan belum diketahui kekuatannya. Seekor ini pasti pancingan. Mungkin saja teman-temannya sudah mengepung, dan entah berapa banyak jumlahnya. Hal itu membuat mereka memilih menghindar. Namun si monyet merah terus mengejar untuk membuktikan eksistensinya, dan semakin bernafsu dirinya, maka semakin cepat pula kawanannya berloncatan lari masuk ke dalam hutan menghindarinya.
Demikianlah, kejar-kejaran antara monyet merah dan kawanannya entah berlangsung sampai di mana dan sejauh apa. Mang Karta dan beberapa petani lain tak pernah lagi melihat kawanan monyet itu lagi, setidaknya untuk beberapa bulan ini.
***
Jkt, 04022015

4 komentar: