a
Najma melihat Mattiew sendirian bermain bola di taman.
"Nanny Dilan, please take for me!"teriaknya sambil menunjuk bola di bawah tangga.
"Where your nanny?" tanya Najma sambil berjongkok mengimbangi tinggi Mattiew, sambil menyerahkan bola. Mengimbangi tinggi anak saat berbicara adalah adab yang diajarkan pada setiap calon nanny, untuk mendapatkan perhatian anak.
"Nanny go to eat."
"O."
"Nanny go to eat."
"O."
Najma melirik jam di tangannya. "13:10, makan siang sudah lewat. Kenapa Mattiew ditinggal begitu lama? Pasti ada sesuatu,"pikir Najma.
Benar saja, baru Najma hendak beranjak, Wati datang dengan wajah tegang.
"Ada apa? Kenapa Mettiew ditinggal sendirian jam segini? Makan siang telat juga?"
"Udah jangan banyak tanya. Semua lagi bingung. Sore nanti nyonya besar mau nyidang kita semua."
"Masalah apa lagi?"
"Ada yang pakai sambungan telepon jarak jauh sampai jutaan tagihannya."
Najma terbengong, dan segera bergegas mancari info lengkapnya.
"Udah jangan banyak tanya. Semua lagi bingung. Sore nanti nyonya besar mau nyidang kita semua."
"Masalah apa lagi?"
"Ada yang pakai sambungan telepon jarak jauh sampai jutaan tagihannya."
Najma terbengong, dan segera bergegas mancari info lengkapnya.
Semua tampak berkumpul di depan TV.
"Mbak Ima, siapa yang ngasih tahu pertama?"tanya Najma penasaran.
"Pak Agus. Karyawan di kantor nyonya. Sekarang ke kantor telkom buat ngelacak kemana tujuan panggilan.
"Tapi kenapa semua tegang? Yang penting kan nggak pakai telepon itu,"heran Najma melihat ketegangan semua.
"Suster kan belum pernah disidang nyonya. Suaranya menggelegar seperti petir. Nggak salah juga gemeter duduk di sana nanti,"kata mbak Ima sambil menunjuk ruang tamu. Mimi, asisten rumah yang paling muda tampak sangat gelisah
"Mimi kenapa?"tanya Najma.
"Mimi, ngelap telepon setiap hari. Jangan-jangan kepencet tanpa sadar, bagaimana?" tanya Mimi lugu.
"Kalau kepencet terus ditutup lagi habisnya nggak jutaan, Mi,"kata Najma. Mimi tersenyum lega.
"Mbak Ima, siapa yang ngasih tahu pertama?"tanya Najma penasaran.
"Pak Agus. Karyawan di kantor nyonya. Sekarang ke kantor telkom buat ngelacak kemana tujuan panggilan.
"Tapi kenapa semua tegang? Yang penting kan nggak pakai telepon itu,"heran Najma melihat ketegangan semua.
"Suster kan belum pernah disidang nyonya. Suaranya menggelegar seperti petir. Nggak salah juga gemeter duduk di sana nanti,"kata mbak Ima sambil menunjuk ruang tamu. Mimi, asisten rumah yang paling muda tampak sangat gelisah
"Mimi kenapa?"tanya Najma.
"Mimi, ngelap telepon setiap hari. Jangan-jangan kepencet tanpa sadar, bagaimana?" tanya Mimi lugu.
"Kalau kepencet terus ditutup lagi habisnya nggak jutaan, Mi,"kata Najma. Mimi tersenyum lega.
Sore hari ketika semua ada dirumah, nyonya besar turun dan memanggil semua pekerja di rumah itu, kecuali sopir pribadi keruang tamu.
"Kalian tahu kenapa dikumpulkan di sini!?"tanya nyonya dengan suara keras dan berwibawa. Semua menunduk tak ada yang menjawab.
"Kalian di sini bekerja. Tidak diperkenankan menggunakan fasilitas rumah, selain untuk urusan pekerjaan. Tagihan telepon melonjak tinggi bulan ini. Bukan masalah biayanya. Saya tidak suka pekerja disini bertingkah lancang! Line telepon yang aktif keluar cuma ada tiga. Kamar saya, kamar Non Fung dan ruang baca pribadi saya. Siapa yang berani menjelajah dan menggunakan fasilitas tanpa ijin!?"
"Kalian di sini bekerja. Tidak diperkenankan menggunakan fasilitas rumah, selain untuk urusan pekerjaan. Tagihan telepon melonjak tinggi bulan ini. Bukan masalah biayanya. Saya tidak suka pekerja disini bertingkah lancang! Line telepon yang aktif keluar cuma ada tiga. Kamar saya, kamar Non Fung dan ruang baca pribadi saya. Siapa yang berani menjelajah dan menggunakan fasilitas tanpa ijin!?"
Suasana sungguh tegang, ketika seseorang memasuki ruangan. Pak Agus masuk dengan selembar kertas di tangannya.
"Gimana, Gus. Ke mana panggilan menuju?" tanya nyonya dengan suara rendah.
"Panggilan jarak jauh ke Kute Bali, Nyonya. Tanggal (...)." Pak Agus menyebutkan tanggal yang terbaca dari kertas yang dipegangnya. "Selama lima hari berturut-turut,"lanjutnya.
"Gimana, Gus. Ke mana panggilan menuju?" tanya nyonya dengan suara rendah.
"Panggilan jarak jauh ke Kute Bali, Nyonya. Tanggal (...)." Pak Agus menyebutkan tanggal yang terbaca dari kertas yang dipegangnya. "Selama lima hari berturut-turut,"lanjutnya.
"Itu tanggal, saat Yanyan ke Kute kan?" kata Non Lea, ibu Dilan.
Semua mata menuju kearah Non Fung dan Pak Yanyan, ayah dan ibu Rian.
"Tapi Fung pakai ponsel buat telepon Daddy," kata ibu Rian menatap bingung suaminya.
"Panggil Sopyan ke sini!" perintah nyonya tegas.
"Sopyan, waktu di Bali, kamu disewakan kamar di hotel yang sama dengan Pak Yan, kan? Apa ada yang meneleponmu?" tanya nyonya, ketika Pak Sopyan sudah masuk dan duduk.
"Ya, Nyonya," kata Pak Sopyan sambil menunduk.
"Siapa!"
"Mira, Nanny Rian yang lama."
"Ya, Nyonya," kata Pak Sopyan sambil menunduk.
"Siapa!"
"Mira, Nanny Rian yang lama."
Semua saling pandang. Kini tatapan nyonya besar menancap pada Fung menantunya.
"Fung, urus ini. Jangan sampai terulang. Perhatikan orang-orang pribadi kalian," katanya sambil beralih menatap semua anak dan menantunya.
"Maaf, Nyonya. Boleh saya bicara?" tanya Najma yang kemudian menarik semua mata menatap kearahnya.
"Ya, Nanny Dilan."
"Nanny lama Rian, keluar bukan karena saya, Nyonya."
"Lalu?"
"Saya tidak tahu apakah bermasalah dalam kerja, hanya saja saya tahu kedekatannya dengan Pak Sopyan, dan kemarahannya pada saya hanya karena cemburu. Saya meminta bantuan Pak Sopyan, atas perintah Non Lea."
"Fung, urus ini jangan sampai terulang,"kata nyonya sambil menatap menatunya itu tajam. " Saya tidak suka, orang-orang tidak nyaman kerja di sini karena masalah seperti itu. Sekarang, semuanya teruskan pekerjaan kalian,"lanjutnya sambil mengalihkan pandangan pada para pekerja.
"Ya, Nanny Dilan."
"Nanny lama Rian, keluar bukan karena saya, Nyonya."
"Lalu?"
"Saya tidak tahu apakah bermasalah dalam kerja, hanya saja saya tahu kedekatannya dengan Pak Sopyan, dan kemarahannya pada saya hanya karena cemburu. Saya meminta bantuan Pak Sopyan, atas perintah Non Lea."
"Fung, urus ini jangan sampai terulang,"kata nyonya sambil menatap menatunya itu tajam. " Saya tidak suka, orang-orang tidak nyaman kerja di sini karena masalah seperti itu. Sekarang, semuanya teruskan pekerjaan kalian,"lanjutnya sambil mengalihkan pandangan pada para pekerja.
Sorot mata kebencian ibu Rian semakin terasa tajam bagi Najma, tapi Najma tidak takut. Lega rasanya kebenaran terungkap. Najma sungguh kagum atas kebijakan nyonya besar, mengatasi masalah dalam keluarganya.
Bersambung ke episode 9: Selamat Tinggal Dilan (tamat)

PROBLEM KEWANGAN TERLIBAT
BalasHapusTerima kasih banyak Mr Walker untuk membuat impian saya datang. saya mendapat kad atm kosong dari beliau. Pada mulanya apabila saya melihat saya memberi komen mengenai dia saya hanya merasakan saya cuba melihat apakah perkara itu akan berubah untuk saya kerana saya seorang ibu tunggal dengan 2 anak. Saya menghubungi Encik Walker kerana nama yang sama dengan suami saya yang terdahulu saya mempunyai kepercayaan dan mengikut langkahnya, saya memerlukan sedikit bayaran untuk mendapatkan kad tetapi ia tidak lagi berterima kasih 5 hari saya mendapat kad saya dihantar ke saya di sini di Canberra , Australia. Dalam masa kurang dari dua minggu sekarang saya telah mengeluarkan wang tunai $ 12.000 dolar di mana-mana POS atau mesin ATM setiap hari mengeluarkan $ 600. Saya sangat gembira kini membayar bil saya dan cukup untuk makan dan menjaga anak-anak saya. Terima kasih Mr Walker Hubungi dia: blankatm002@gmail.com