ta
Bersama embun pagi aku berlari-lari keliling kampung, menanti sang mentari. Sesekali tersenyum saat tak ada orang, mengingat mimpiku semalam. Ketika melewati rumah Santi, kulihat dia sedang duduk sendirian di kursi teras. Aku pun mampir ke rumahnya.
"Hai Santi, kenapa kamu sendirian? Bengong lagi. Entar kesambet, lho! Hihi ...," ucapku sedikit tertawa kecil. Santi menatapku, lalu melemparkan pandangannya pada rumput hijau yang tumbuh di depan rumah.
"Iya, nih. Aku lagi bete!" jawabnya singkat.
"Eh, tadi malam aku mimpi aneh, San. Bahkan sampai sekarang aku masih tersenyum sendiri. He ...," kembali aku tertawa. Sepertinya Santi tertarik mendengar mimpiku.
"Mimpi apa? Ayo cerita padaku," pinta Santi, senyuman manis dia terbarkan. Sambi tertawa, aku pun menceritakan mimpiku.
***
Bulan Ramadhan, bulan penuh berkah. Setiap malam hari melaksanakan salat Tarawih. Namun malam ini, tak seperti malam lainnya. Hampir semua warga Cerpen-Ku datang ke masjid. Rupanya akan ada peringatan Nuzulul Qur'an. Berbondong-bondong mereka datang dengan odong-odong milik Yan Hendra. Dengan ikhlas, Yan mengantar orang-orang ke masjid tanpa mengharap imbalan. Wah ... patut dicontoh, ya?
Pengurus masjid menunjuk Hany Juwita sebagai 'MC' ditemani Musiyem dan Percaya Sama Zalika. Setelah semua sudah siap, acara pun dimulai. Susunan acara yang pertama, pembukaan. Membaca 'basmalah' bersama, lalu dilanjutkan dengan pembacaan Al-Qur'an oleh Zenith Azzura Azzura. Didampingi oleh Sastra Dewita, sebagai penerjemah. Suara merdu Zura, membius suasana saat itu juga. Semua orang terpana akan keindahan suaranya. Wow!
Satu persatu acara terlewati dengan hikmat. Tibalah inti acara yaitu ceramah dari Pak Achmad Solihin. Ustad yang sudah tersohor se-Indonesia.
“Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh,” salamnya dengan nada mendayu-dayu, tak mau kalah dengan suara Zura.
***
Bulan Ramadhan, bulan penuh berkah. Setiap malam hari melaksanakan salat Tarawih. Namun malam ini, tak seperti malam lainnya. Hampir semua warga Cerpen-Ku datang ke masjid. Rupanya akan ada peringatan Nuzulul Qur'an. Berbondong-bondong mereka datang dengan odong-odong milik Yan Hendra. Dengan ikhlas, Yan mengantar orang-orang ke masjid tanpa mengharap imbalan. Wah ... patut dicontoh, ya?
Pengurus masjid menunjuk Hany Juwita sebagai 'MC' ditemani Musiyem dan Percaya Sama Zalika. Setelah semua sudah siap, acara pun dimulai. Susunan acara yang pertama, pembukaan. Membaca 'basmalah' bersama, lalu dilanjutkan dengan pembacaan Al-Qur'an oleh Zenith Azzura Azzura. Didampingi oleh Sastra Dewita, sebagai penerjemah. Suara merdu Zura, membius suasana saat itu juga. Semua orang terpana akan keindahan suaranya. Wow!
Satu persatu acara terlewati dengan hikmat. Tibalah inti acara yaitu ceramah dari Pak Achmad Solihin. Ustad yang sudah tersohor se-Indonesia.
“Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh,” salamnya dengan nada mendayu-dayu, tak mau kalah dengan suara Zura.
“Wa’alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh,” jawab hadirin serempak. Pak Solihin pun memulai ceramahnya.
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang bla bla bla ...,” jelas Ustad Solihin secara detail mengenai turunnya kalam Allah.
Tiga puluh menit kemudian, acara istirahat. Pembagian snack diiringi lagu-lagu Islami dari salah satu grup qasidah. Bu Wirda dan Syam membagi makanan di bagian perempuan. Toni Budianto dan Tedy Maulana di bagian laki-laki.
Waktu terus bergulir, ceramah Pak Solihin pun selesai. Acara ditutup dengan membaca hamdalah bersama, “Alhamdulillah ….”
Waktu terus bergulir, ceramah Pak Solihin pun selesai. Acara ditutup dengan membaca hamdalah bersama, “Alhamdulillah ….”
Ketika Zura mau pulang, rupanya orang-orang sudah berbaris rapi mau minta tanda tangannya. Mereka mengidolakan Zura. Setiap orang yang berbaris membawa sebuah buku. Pak Yan diurutan pertama, sebab dia yang mengantarkan orang-orang ke masjid. Diurutan selanjutnya ada Tonie Hida, Setia Rahmawati, Saeful Nak Bakty, Nano Setyoko, Lia Listiani, Linda Puspita Sari, Khoirul Muhtaromi, Heny Adinda, Esi Suny, Dudunk Sakelan, Arrosyid Amru, Aditya, Airi Cha, dan masih banyak lagi.
“Mas Dunk, aku duluan ya? Kalau nggak, aku ketapel, lho!” ucap Airi, menggertak. Dudunk pun takut dan mempersilahkan Airi berdiri di depannya. Rupanya bukan hanya Dudunk saja, tapi kepada yang lainnya. Sehingga Airi pun akhirnya berdiri di belakang Yan.
“Lho, Cha! Kamu di sini?” tanya Yan heran. Padahal sebelumnya Tonie Hida yang dibelakang Yan.
“Iya, Mas. He …,” Airi ketawa.
Yan Hendra hanya geleng-geleng kepala. Dudunk pun tak mau kalah, dia teriak-teriak dari barisan belakang. Berharap sang idola mau tanda tangan di buku miliknya.
“Mba Zuraaa …! Kalau mau ngasih tanda tangan ke aku, entar aku kasih 100 ekor sapi, lho!” rayu Dudunk. Idenya Dudunk diikuti oleh Nano Setyoko.
“Mba Zuraaa …! Kalau mau ngasih tanda tangan aku duluan, aku kasih 200 hektar kebun kelapa sawitku, deh!” seru Nano, tak mau kalah dari Dudunk. Lain lagi dengan Khoirul, si pencinta kopi.
“Mba, jika mau tanda tangan di buku diary aku, akan kuberi kopi termanis dan termahal di dunia, gimana?” ucap Khoirul dengan lantang dan jelas.
Zura hanya tersenyum mendengar tawaran dari Dudunk, Nano dan Khoirul. Kini giliran Linda.
Zura hanya tersenyum mendengar tawaran dari Dudunk, Nano dan Khoirul. Kini giliran Linda.
“Mba, kalau tanda tangan di buku milikku, akan kuajak Mba Zura jalan-jalan. Bukan hanya Hongkong, tapi keliling dunia,” kata Linda dengan lembut.
Aduh! Mba Zura memang menjadi idola di Cerpen-Ku. Begitu antusiasnya orang-orang mau minta tanda tangan.
“Makasih banget, ya? Kalian mau antre dengan sabar,” ucap Zura lembut sembari tersenyum.
“Makasih banget, ya? Kalian mau antre dengan sabar,” ucap Zura lembut sembari tersenyum.
“Mba Zura, tanda tangan di buku aku dulu, ya? Entar aku temani begadang. Aku bisa tak mengantuk 3 x 24 jam, lho!” tukas Setia tanpa ragu. Ya, pantas saja Setia berkata seperti itu. Dia sendiri suka begadang, he …
Tonie Hida pun tak mau ketinggalan angkat bicara. “Um Zura, kalau mau tanda tangan di buku ceritaku, aku akan merubahmu menjadi peri yang sangat cantik, deh. Beneran, Um. Nanti aku akan menjadi bima X, yang selalu mengawal Um Zura setiap saat, gimana?” kata Tonie serius.
Zura pun kembali tersenyum dan tertawa kecil, “Hehehe … kalian semua lucu, deh!”
Aku yang melihat kejadian tersebut hanya tertawa, “Hahaha … kalian mau antre beras, apa?”
“Hey Tinkel, bukan antre beras tapi minta tanda tangan Mba Zura. Kamu mau ikut nggak?” tanya Yan.
“Ya maulah,” jawabku singkat.
“Antre saja di belakang sendiri, tuh!” sambung Tonie.
Ah, sebel banget. Mau tak mau, aku pun ikut mengantre di urutan belakang.
“Ayo, maju urutan pertama. Sini aku tanda tangani,” Zura memulai membubuhkan tanda tangannya.
“Aduh! Mana penanya, ya?” Yan Hendra celingukan mencari pena miliknya. Ternyata tak ketemu juga. Lebih aneh lagi, bukan hanya Yan saja, semua orang yang berbaris tak membawa pena. Untung aku membawa pena. Buru-buru aku berlari ke depan.
“Aku bawa pena. Ini,” kutunjukkan pena pink milikku. Berhubung aku yang membawa pena, akhirnya buku milikku yang pertama kali ditandatangani oleh Mba Zura. “Hore … asik asik asik!”
Entah tak tahu sebab apa, ayahnya Mba Zura menghampiri anak kesayangannya. Menyuruhnya pulang karena sudah malam, takut sahurnya terlambat.
“Nak, pulang sekarang, ya?”
“Baik, Yah. Maaf teman-teman Zura pulang dulu, ya? Lain waktu bisa tanda tangan lagi,” ucap Zura pergi meninggalkan kami.
“Yahhh …!” keluh mereka yang belum menerima tanda tangan Mba Zura, sang idola.
“Tinkel, malam ini memang kau yang beruntung. Semuanya, ayo kita pulang. Sabar besok masih ada waktu,” ucap Yan. Mengajak orang-orang pulang ke rumah masing-masing.
***
“Wkwkwk … hahaha …! Mimpimu bukan aneh tapi lucu,” kata Santi sembari tertawa.
***
“Wkwkwk … hahaha …! Mimpimu bukan aneh tapi lucu,” kata Santi sembari tertawa.
“Hihi … memang aneh, San. Ya sudah, aku mau melanjutkan lari pagi, ya! Mau ikut?” ajakku. Namun Santi menolaknya. Akhirnya aku pamit dan melanjutkan lari keliling kampung.
MJ
08 Juli 2015
08 Juli 2015
Selamat malam sahabat Cerpen-Ku

Tidak ada komentar:
Posting Komentar