Dropdown

Kamis, 09 Juli 2015

HUJAN MEMBAWA BERKAH

Aku berdiri termangu di emper pertokoan. Berlindung dari hujan yang turun tanpa memberi tanda. Baik itu tanda tanya, seru, koma maupun titik.
Aku menunggu mbak'e ku Musiyem, sudah hampir dua jam. Namun artis tenar Cerpenku itu tak jua tampak tongkol hidungnya. Pesek kali ya ...???
Sebel, kesel pastinya. Kalau tidak mikir si mbaknya janji mau belikan baju lebaran, ih nggak bakalan aku bela-belain berdiri bak patung tugu makam pahlawan empat lima.
Mataku jelalatan ke sana kemari, mencari sosok bersuara merdu bak bulu perindu. Tapi sampai biji mataku hampir melorot, tu Mbak Pluto nggak nonggol jua. Sampai putus asa rasanya. Kalau tidak ingat Tuhan dan takut dosa, pengen aja gantung diri di pohon tomatnya mas Dudunk Sakelan.
Di telponp un suara di seberang sana selalu menjawab "nomor yang anda tuju sedang indehoi. Tunggulah beberapa saat lagi." Nah, lho siapa yang nggak kesel coba? Hujan deras akhirnya menjadi rintik. Si Mbak tidak juga kelihatan. Mungkin kalau tidak malu sama hujan, air mata ini juga meleleh.
Tiba-tiba mataku menangkap sosok yang kutunggu.
Tapi tunggu?, Sama siapa lagi tuh si mbak turun dari becak. Langsung payung hitam terkembang. Tak jelas kulihat wajah lelaki itu, karena tertutup payung kematian hihihi ....
Kayaknya sih keren. Hmmmm pantesan aja telat, ternyata hobynya main brondy lagi angot.
Si mbak berjalan mendekatiku bersama sang brondy. Lalu layar terkuncup payung maksudnya.
"Lha, Mas Dimaz Dewantara toh!" seruku.
"Hihihi ... iya Cha. Mangap ya telat." Serasa tak berdosa Mbak Musi berkata.
"Stok maaf belum dibuka." Ketus jawabku.
"Lagian sepagi tadikan udah duaan di empang. Pake acara nyebur segala lagi. Masa sih sekarang duaan lagi!" cerocosku sambil bibir monyong lima senti. Nggak jadi akh dua senti aja.
"Mbakmu kangen terus, Cha." Mas Dimas menimpali sambil cengengesan kayak kuda lumping.
"Ya sudah mbak kasih uang aja, Cha, cari sendiri baju barunya." Sembari menyodori sepuluh ikat uang bergambar Kapten Pattimura. Lalu ngeloyor pergi sambil menggandeng mesra mbeeekk, eh salih, mbebnya.
"Tapi ... Mba ...." Menggantung ucapanku.
"Sudah nggak papa, Cha habiskan tu uang juga boleh."
"Lantas uang in ...?" katakku hendak mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celana.
"Buat Cha semuanya, mbak ihklas dunia dan akhirat. Itung-itung sedekah sama Cha yang piatu."
"Cha belum sele ..."
"Nggak mengapa, mosok tidak percaya sama mbakmu ini?" tukas Mbak Mus coba meyakinkanku.
"Beneran, Mbak?" Kucoba mencari kepastian.
"Beneeeerrrr, kapan mbak pernah bolong heleh bo'ong? Ludah yang terbuang pantang dijilat kembali. Iyakan mbeb?" Liriknya mesra pada Dimas.
"Alhamdulillah jika begitu mbak. Jadi jatah THR mbak dari mas Noni ehNano Setyoko, buat Cha semuanya."
"Mak ... mak ... maksudnya apa, Cha?" Mbak Mus terkesiap mendengar ucapan barusan.
"Maksud Cha, tadi sebelum kemari. Cha disuruh mampir kerumah mas Noni, buat ambil THR dari 250 brondolan sawit yang telah dicairkan hehehe."
Seketika tubuh mbak Mus kejang-kejang.
"Jangan gitu akh, Mbak. Malu tu ma mas Dim, ludah yang sudah terbuang harim dijilat kembali hihihi."
"Cha, gimana nih mbakmu?" Cemas mas Dim.
"Biasa aja, Mas. Ntar bakalan baek sendiri, jika kaget emang begitu. Ayanya langsung kumat."
Kukatakan itu sembari berlalu meninggalkan mas Dim yang kebingungan liat yayang mbebnya kelejotan.
Tujuanku sekarang kerumah mbak Hany Juwita, mbak Percaya Sama Zalika dan mbak Rinjani Syafriadi. Karena juga ada titipan THR dari juragan sawit buat mereka.
Moga-moga mereka seperti mbak Mus. Ihklas dunia akhirat hihihi ....
Jadi THRnya utuh untukku. Wkwkwkwk ....
Bilik Airi, 090715

Tidak ada komentar:

Posting Komentar