ENTAH kenapa di musim kemarau ini, tiba-tiba turun hujan. Aku yang tengah bermain dengan Joele, cepat-cepat berteduh di bawah pohon tomat. Sementara Joele terus main. Sendirian, hujan-hujanan. "Dasar sapi!" seruku setengah bergumam. Namun tidak urung tersenyum juga.
Hujan makin deras saja. Di kubangan terlihat beberapa katak, sedang asik bermain. Aku jadi iri. Kenapa aku tidak bisa bertingkah seperti mereka. Mereka seperti tidak punya beban. Menjalani hidup dengan penuh keceriaan.
"Sedang lihat katak lagi kawin?" Tiba-tiba ada suara cempreng di belakangku. Setelah kutoleh ternyata Dhenok Raharjo. Olalala, kenapa tuh mahkluk nyasar kemari ya?
Dhenok ketawa. Suaranya sampai mengalahkan bunyi geludug. "Kok diem aja, sih? Pengen?"
"Puasa-puasa ngomong apaan, sih?" Aku merengut. Kesal melihatnya. Semuanya sudah pada tahu kan, kalau di tempat sepi berduaan, ketiganya adalah setan. Eh, tapi aku tidak bakalan tergoda kok. Di bulan Ramadhan, semua setan dan kroni-kroninya, kan diikat. Tidak bisa menggoda manusia.
"Maksudku, kamu pengen ikutan mandi, gitu!" Dhenok nyengir. Memperlihatkan giginya yang habis digergaji.
"Sana, kamu mandi sendiri," tukasku, "eh, kamu kok pegang tali? Buat apa?"
Dhenok yang tadinya nyengir, tiba-tiba berubah sedih. "Aku mau bunuh diri di pohon tomat kamu. Boleh kan, Dunk?"
"Sangat boleh. Tapi kenapa mau bunuh diri?"
Dhonok tiba-tiba menangis sambil memeluk pohon tomat. "Aku kesal sama Setia Rahmawati Numbone. Namanya saja Setia. Tapi orangnya tidak setia."
"Maksudmu?" tanyaku heran sambil menaruh ulat bulu di rambutnya yang gimbal.
"Dia sekarang mendekati Kicau Perempuan Senja ," ucap Dhenok sambil ngemut ulat yang tidak sengaja dipegangnya. "I-ih, di sini banyak ulatnya. Kabuuuurr ....!" serunya kemudian sambil tetap ngemut ulat bulu.
Aku ketawa geli melihatnya. Mau bunuh diri, kok takut sama ulat? Dhenok, Dhenok ...!***
Bumi Kerapan, 090715

Tidak ada komentar:
Posting Komentar