Oleh Dudunk Sakelan
SEORANG gadis dengan rambut dikepang dua sedang asik membaca novel karangan Airi Cha. Nggak mempedulikan cowok yang duduk merengut di sebelahnya.
"Ra, benar rumah pohon ini yang membuat adalah ayah dari cowok yang ingin melamarmu?" tanya cowok itu dengan kesal.
Era nggak menyahut. Bibir mungilnya hanya senyum-senyum saja.
"Ra ...!" Cowok itu merebut novel yang dipegang Era. "Kamu dengar nggak sih, apa yang aku tanyakan?"
"Dengar, Za. Dari kemarin aku kan sudah menjawabnya. Masa, harus menjawab berulang-ulang?"
"Berarti benar, kan?"
"Nanya lagi? Sudah ah, mana novelnya? Mengganggu orang baca saja!" Era menadahkan tangannya. Cincin batu akik yang melingkar di empat jarinya, terlihat manis. Namun nggak membuat cowok yang rupanya pacar Era itu berhenti merajuk. Cemburunya sudah mencapai taraf gawat darurat.
"Nih!" Cowok yang bernama Za itu melemparkan novel ke pangkuan Era. Lalu tanpa basa-basi lagi, meluncur turun.
Era melihat kepergian cowok yang sebenarnya dicintainya setengah hidup itu sambil dengan geleng-geleng kepala. Membuat sepasang buntut kudanya ikut bergoyang-goyang. Lucu. "Za, Za," desisnya.
***
Hari-hari berikutnya, Era nampak gelisah. Wajah cantiknya murung. Karena setelah kejadian di rumah pohonnya, ia nggak melihat lagi kekasih hatinya. Padahal dulunya telah berikrar bahwa nggak akan berpisah sampai titik darah penghabisan. "Dasar cengeng. Ini hanya gara-gara rumah pohon, tiba-tiba menghilang," gumanya kesal campur sedih, "daripada aku kehilangan dirikau, Za, tambatan hatiku, mending aku rubuhkan saja rumah pohon itu. Meskipun sebenarnya aku sayang bingitz. Karena sebenarnya, aku sudah lama menginginkan rumah pohon."
Gadis itu pun dengan membawa pedang, bergegas menuju rumah pohonnya. Begitu sampai, langsung menyabet-nyabetkan pedangnya pada pohon besar yang di kerindangannya terdapat rumah mungil impiannya.
Keringat mulai membanjir di sekujur tubuh Era. Menebarkan harum bunga melati (maklum, tiap malam kerjaannya meronce melati). Sementara air matanya pun ikut membanjir. Menyatu dengan keringatnya. Tiba-tiba ia berhenti mengayunkan pedangnya, karena bahunya ada yang memegang dari belakang. "Za, kenapak dirikau ke sini?" tanyanya serak begitu menoleh. Ternyata kekasih hatinya yang berdiri manis di belakangnya.
"Kenapa kamu mau menebang pohon tak berdosa itu?" tanya Za tanpa menjawab pertanyaan Era.
"Biar kamu puas. Gara-gara rumah pohon itu kan, kamu marah-marah gitu?" Era manyun.
"Jangan kau tebang, Sayang. Biarkan saja rumah pohon itu. Aku sekarang sangat menyukainya." Za tersenyum. Lalu tangannya mengambil pedang yang ada dalam genggaman Era.
Era membiarkan pedangnya diambil. Namun ia masih bingung dengan perkataan kekasih hatinya itu. Wajah gantengnya pun nggak memperlihatkan kemarahan lagi.
"Ra, aku baru tahu dari papa, kalau ternyata yang membangun rumah pohon itu adalah papaku sendiri. Orang yang juga diam-diam janjian dengan papamu untuk melamarmu."
"Oh, ya?" Era tertawa. "Jadi ... ? Hihi, dasar kedua orang kita temenan, ya? Mau menjodohkan kita saja, pakai acara diam-diam segala."
Za tertawa juga. "Maafkan aku, dong!" serunya lembut seraya menghapus air mata Era dengan jempolnya.
Era tersenyum manja. Ingin rasanya ia membenamkan diri dalam pelukan cowok yang sangat dicintainya itu.***
Bumi Kerapan, 020615
SEORANG gadis dengan rambut dikepang dua sedang asik membaca novel karangan Airi Cha. Nggak mempedulikan cowok yang duduk merengut di sebelahnya.
"Ra, benar rumah pohon ini yang membuat adalah ayah dari cowok yang ingin melamarmu?" tanya cowok itu dengan kesal.
Era nggak menyahut. Bibir mungilnya hanya senyum-senyum saja.
"Ra ...!" Cowok itu merebut novel yang dipegang Era. "Kamu dengar nggak sih, apa yang aku tanyakan?"
"Dengar, Za. Dari kemarin aku kan sudah menjawabnya. Masa, harus menjawab berulang-ulang?"
"Berarti benar, kan?"
"Nanya lagi? Sudah ah, mana novelnya? Mengganggu orang baca saja!" Era menadahkan tangannya. Cincin batu akik yang melingkar di empat jarinya, terlihat manis. Namun nggak membuat cowok yang rupanya pacar Era itu berhenti merajuk. Cemburunya sudah mencapai taraf gawat darurat.
"Nih!" Cowok yang bernama Za itu melemparkan novel ke pangkuan Era. Lalu tanpa basa-basi lagi, meluncur turun.
Era melihat kepergian cowok yang sebenarnya dicintainya setengah hidup itu sambil dengan geleng-geleng kepala. Membuat sepasang buntut kudanya ikut bergoyang-goyang. Lucu. "Za, Za," desisnya.
***
Hari-hari berikutnya, Era nampak gelisah. Wajah cantiknya murung. Karena setelah kejadian di rumah pohonnya, ia nggak melihat lagi kekasih hatinya. Padahal dulunya telah berikrar bahwa nggak akan berpisah sampai titik darah penghabisan. "Dasar cengeng. Ini hanya gara-gara rumah pohon, tiba-tiba menghilang," gumanya kesal campur sedih, "daripada aku kehilangan dirikau, Za, tambatan hatiku, mending aku rubuhkan saja rumah pohon itu. Meskipun sebenarnya aku sayang bingitz. Karena sebenarnya, aku sudah lama menginginkan rumah pohon."
Gadis itu pun dengan membawa pedang, bergegas menuju rumah pohonnya. Begitu sampai, langsung menyabet-nyabetkan pedangnya pada pohon besar yang di kerindangannya terdapat rumah mungil impiannya.
Keringat mulai membanjir di sekujur tubuh Era. Menebarkan harum bunga melati (maklum, tiap malam kerjaannya meronce melati). Sementara air matanya pun ikut membanjir. Menyatu dengan keringatnya. Tiba-tiba ia berhenti mengayunkan pedangnya, karena bahunya ada yang memegang dari belakang. "Za, kenapak dirikau ke sini?" tanyanya serak begitu menoleh. Ternyata kekasih hatinya yang berdiri manis di belakangnya.
"Kenapa kamu mau menebang pohon tak berdosa itu?" tanya Za tanpa menjawab pertanyaan Era.
"Biar kamu puas. Gara-gara rumah pohon itu kan, kamu marah-marah gitu?" Era manyun.
"Jangan kau tebang, Sayang. Biarkan saja rumah pohon itu. Aku sekarang sangat menyukainya." Za tersenyum. Lalu tangannya mengambil pedang yang ada dalam genggaman Era.
Era membiarkan pedangnya diambil. Namun ia masih bingung dengan perkataan kekasih hatinya itu. Wajah gantengnya pun nggak memperlihatkan kemarahan lagi.
"Ra, aku baru tahu dari papa, kalau ternyata yang membangun rumah pohon itu adalah papaku sendiri. Orang yang juga diam-diam janjian dengan papamu untuk melamarmu."
"Oh, ya?" Era tertawa. "Jadi ... ? Hihi, dasar kedua orang kita temenan, ya? Mau menjodohkan kita saja, pakai acara diam-diam segala."
Za tertawa juga. "Maafkan aku, dong!" serunya lembut seraya menghapus air mata Era dengan jempolnya.
Era tersenyum manja. Ingin rasanya ia membenamkan diri dalam pelukan cowok yang sangat dicintainya itu.***
Bumi Kerapan, 020615

Tidak ada komentar:
Posting Komentar