Dropdown

Minggu, 19 Juli 2015

Puisi-puisi Keprihatinan dan Renungan Sastra Dewita

SATU PERCAKAPAN SENDU SEBELUM HARI FITRI YANG KAN DATANG BERTAMU.

"Bunda ... kuingin baju baru.
Berenda dan berpita kupu-kupu.
Kuingin sepatu merah itu Bunda.
Juga tas mungil berkepala boneka.
Belikan Bunda kuingin seperti mereka
yang tinggal di rumah gedong sana."
"Anakku sayang ... sabar ya nak
Bunda selesaikan cucian ini dulu.
Esok jika upahnya ada akan Bunda belikan nak.
Tapi bukanlah baju berenda dan berpita kupu-kupu cukuplah sehelai baju katun kaki lima seharga tiga puluh lima ribu.
Bukan pula sepatu merah mengkilat itu nak, Bunda hanya bisa belikan sepasang sandal jepit seharga lima belas ribu.
Dan tas berkepala boneka itu buat apa nak jika nanti tak kan terisi apa-apa.
Sabar nak, Bunda hanya berupah seratus ribu.
Tapi esok lebaran kita kan makan enak, Bunda akan membeli tahu dan membuat sambal yang enak, masih ada sisa limapuluh ribu buat hidangan lezat kita nanti.
Nak sabarlah yang penting kau tetap sekolah agar tak menjadi seperti Bunda."
"Bunda ... kapan aku bisa seperti anak-anak itu Bunda, bermain dengan sepeda, berbaju bagus, dengan pita di kepala, tinggal di rumah besar berpagar tinggi duuuh ... pasti senyaman istana."
"Esok, nak jika kau telah menjadi seorang bidan, kau akan seperti mereka memiliki anak-anak yang tak kan pernah merasakan sepertimu maka berjanjilah Nak untuk terus menjadi anak yang pintar agar kau bisa seperti mereka dan Bunda kan terus berjuang tuk mewujudkan mimpimu Nak."
"Bunda ... aku berjanji, aku akan meraih mimpi-mimpiku, aku tak ingin tinggal di emperan-emperan toko ini, aku tak ingin lagi bergumul dengan sampah, aku ingin membelikan Bunda baju yang bagus, aku ingin mengajak Bunda makan di rumah makan dekat pasar itu, aku ingin kita tinggal di rumah yang ada kasurnya Bunda maka restui dan doakan aku selalu Bunda."
" Anakku ... doa Bunda tak akan pernah putus untukmu karena hanya itu lah satu-satunya yang bisa Bunda berikan bagi hidupmu. Hanya setangkup doa milik Bunda yang berharga Nak, sekarang kemarilah sayang ... lelaplah engkau dalam kasih Bunda, esok masih tetap harus kita lalui walau sulit tapi percayalah Tuhan selalu bersama kita."
Bumi Andalas, 18/7/2015
Special to Komunitas Anak Jalanan (KAJ. BUKIT)






MALAM YANG MERINDU
Oleh : Sastra Dewita
Pada malam ingin kubertanya dalam remangnya yang temaram; tentang kasihku
Adakah malam ini ia menatap rembulan yang kutitipkan di putik jantungnya seperti aku yang sedang memeluk kenang akannya?
Sementara tak bergayut satu pun pijar di langitku yang tak berbintang
Angin mengusik diamku tuk melayahkan tanya pada waktu yang bergulir
Adakah rindu yang menyulur di hatimu
Di sana pada saujana yang merentangkan talinya begitu kuat di antara kita
Pada malam pula saat ini aku berdiri disudut diamku yang hening; mengingatmu kasih
Lihatlah dinding-dinding membeku saat kugoreskan nama mu pada hamparannya; dingin
Kucari bayangmu hanya itu yang kumampu
Tuk genapkan luahan rasa yang begitu membubu akanmu
Merebak air mata pada sudut kerling saat bayangmu mencumbuku dalam kenang kita kemarin
Saat masih menautkan jemari dalam riuhnya ikatan rasa yang mengebat kita dalam untaian cinta di sini
Kini mungkin hanya bisa menunggu
saat waktu berputar dalam lamat dentangnya
Karena kutak sanggup memutar musim agar kau selalu ada di sisiku
Biarlah kini pada malam aku bertanya dan bercerita tentang rinduku yang semi di padang hati ini
Dan jika selesai nanti kukirimkan harumnya lewat anila lalu
Agar kau tau malam ini aku rindu.
Bumi Andalas,
NK. 18.7.2015


R I N D U

Malam ini segala rindu bertamu
Kutuliskan sudah pada batu-batu beku
Gigil menggetarkan jendela yang kering
Memaksa kubersandar kian nanar
dan tiga tangkai anyelir pun tersenyum
Mungkin tau
Entahlah
Di saat jarum jam kian sibuk berputar
Dalam dentingannya kucoba mencari bayang
Ada yang hilang
Kopi yang terseduh di sudut meja bundar
Kepulannya pun hanya tinggal seulas
Masih harum
hanya sepertinya telah dingin
Sudah lamakah aku berdiri di sini?
Apa lagi yang kubisa
Sementara mozaik pada jendela kian samar
Kabut perlahan menutup dalam dingin
Sepertinya kian larut
Pun kesudahannya rindu ini semakin menggantang
Berdentaman dalam dada kian lantang
Merebak sudah linangan
Pada sudut mata yang mengundang
Tak Tahan
Kini aku hanya bisa diam
Lamat dalam igau yang menyeduhmu dalam kenang
Menunggu ....
Bumi Andalas,
NK.17.7.2015

PAHIT KASIHKU DI SECAWAN KOPI

Secangkir kopi kutuang
Terdiam perlahan dingin dalam hembusan
Denting cawan bergemeretak oleh uapnya
Perlahan naik kian bias
Desahku perlahan meremang
Lamat hati mendoa
Pada gending gending kuterdiam
Apa salahku Duhai Penjawab Tanya?
Jatuh berderai kelopak bunga kopi
Meluruh tanah menangkup dinginnya embun
Merah saganya pecah tampak biji
Menyingkap rahasia pahitnya rasa
Yang jatuh dari mayang daunnya
Tergerai melepas pada reranting
Tanah mencoklat basah
Melembabkan rona pipi yang semalam berderai
Air mataku jatuh pada cawanmu
Saat kau sambut jemari kata pada satu rahasia
"Kasih ... kau kusimpan rapat pada belenggu halimun"
Sulur kopi sudah semakin menjuntai
Tandan mayang bergerumul saga berseri
Kutahu ada kepahitan pada rasamu
Seperti lidahku yang memahit mencecap kopiku
Hitam kita menerawang pada manik kasih yang mengambang
Pada kata yang terdiam
Pada jemari yang mengetuk panel panel bertanda cinta
Ah ... syairmu adalah pagi buatku
Seperti bening rinai membasahi pucuk pucuk kopi
Jemarimu bak tangkup damai bagi resahku
Mengurai sepi menjadi bilah bilah rindu
Menguntum bunga kisah di batinku
Segenggam biji kopi kutuai kutumbuk melumat
Memercikkan aroma pahit mewangi
Sepahit kisah yang terpilin berharap bahagia
Walau menyisakan banyak tanya
Hati menang dalam berkata
Rasa entah siapa yang mencoba
Semua datang bertamu tiba tiba
Kupu kupu rindupun hinggap pada helai bunganya
Kopiku dingin tapi tetap harum kutelan.
Bumi Andalas 2015

S U N Y I
Oleh : Sastra Dewita
Malam ini bibirku tak bergincu
Jengah saja tuk berkaca pada cermin retak di sudut ruang
Sementara gerabah-gerabah sunyi
Bunganya mati
Lampu berteriak pada laron
Setubuhi pijarku ....!
Pada dinding-dinding kusam dengan sudut berlumut
Ada gema yang melekat
Sisa obrolan kita pada secangkir kopi pahit dan sepiring getuk
Senderan kursi anyaman rotan itu berderak berserumbulan paku saksi gelak itu berderai
Kemarin ....
Lalu kini hanya sepi hadirkan ruangan kosong
Memang masih ada cangkir kopi dan piring di atas gerobok
Tapi tak ada asap rokok yang mengepul
Diam adalah lagu yang terhidang
Kini ....


Bumi Andalas 2015

1 komentar:

  1. Sastra Dewita adalah salah seorang admin di grup facebook Cerita Penulis Kita Semua (CERPEN-KU)

    BalasHapus