Dropdown

Selasa, 07 Juli 2015

Untukmu duhai manusia yang ingin dipanggil penyair yang mulia ....



Karya: Sastra Dewita

Apakah ada hak bagi seorang manusia yang sama-sama di ciptakan oleh Tuhan dalam bentuk yang sama, dianugrahi otak, pikiran dan perasaan yang sama serta sama pula kedudukannya di mataNya untuk melarang dan bahkan mencela manusia lainnya untuk menghasilkan karya, menciptakan puisi-puisi?
Apa kelebihanmu wahai "manusia" yang sama-sama memiliki kotoran di perut, sama-sama kelak akan menjadi bangkai?
Apa kau sudah merasa begitu "tinggi" karena kau anggap karyamu, puisi-puisimu sudah menyamai syair Tuhanmu hingga lidahmu begitu lancar mencela manusia lainnya menghasilkan karya-karyanya, puisi-puisinya yang kau nilai tidak bermutu itu?

Duhai penyair setinggi apa betul kedudukanmu itu, seagung apa betul puisi-puisimu, semulia apa karya-karyamu jika di mata Tuhan kedudukanmu "mungkin" jauh di bawah alas kakiku dan alas kaki manusia lainnya.
Ah kesombonganmu itu sudah menjelaskan posisimu tak lebih rendah dari Fi'raun yang tenggelam karena kesombongannya.
Sadarlah kita sama di mata Tuhan yang membedakan bukan karya tapi keimanan dan ketakwaan. Kau penyair hanya sementara tertitip di dunia, jika sudah berpakaian kafan apakah puisi-puisi bermutumu itu yang akan kau banggakan?
Ah aku menantimu kelak di alam sana betapa aku ingin melihatmu dengan puisi-puisimu yang selalu kau agungkan itu.
Sekarang jelas olehku "akalmu telah mengalahkan keimananmu"
Era.2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar