Seisak tangis lirih membisik reot bilik bambu
Seiris kisah pilu mengukir wanita dusun cantik
Lelaki telah pergi campakkan diri sitiga buah hati
Menatap kusam masa depan suram
Wanita getir melangkah kelam
Seiris kisah pilu mengukir wanita dusun cantik
Lelaki telah pergi campakkan diri sitiga buah hati
Menatap kusam masa depan suram
Wanita getir melangkah kelam
Beradu nasib di dusun teramat sulit
Sawah dan kebun tak menjanjikan
Nekat melaknat sudah
Mencoba peruntungan kota besar
Tinggalkan anak demi suapan perut yang merintih perih
Tawaran datang dari si nyonya besar
Bergelar mami sungguh menggiurkan
Terpaksa badan diserahkan pada jemari liar para pejantan
Hina dihina nista dijalani
Hidup meruap si kupu kupu malam
Dalam dekapan dosa ingat anak menanti di dusun penuh harap
Lorong waktu berjalan maju
Tertatih berjuang ketiga anak menjadi orang besar
Dari uang malam yang didulang
Walau pedih menahan dosa nestapa
Tapi rela tiada daya
Hingga waktu yang dinanti tiba
Pulanglah si wanita dusun melangkah dalam sakit
Dengan senyum di bibir harap dekap hangat si buah hati
Duga tak disangka burung pembawa laknat bercerita tentang dunia malam yang menghidupkan hidup
Anak mencerca malu tak ingin hendak
Tau sang ibu si kupu kupu Malam
Terusir kembali balik reotnya bilik bambu
Kini seisak tangis lirih kembali berdendang dari bilik itu
Bukan tangisan lapar
Tapi tangisan rindu seorang ibu
yang kembali terbuang
Sendiri menunggu maut yang hampir menjelang.
Padang, 12/2/2015
Menyapa sahabat CERPEN_KU.
Perjalanan hidup setiap manusia selalu penuh liku liku namun yang pasti semua harus kita jalani dan tempuh apapun resikonya ... kuatlah dalam menghadapinya
Sawah dan kebun tak menjanjikan
Nekat melaknat sudah
Mencoba peruntungan kota besar
Tinggalkan anak demi suapan perut yang merintih perih
Tawaran datang dari si nyonya besar
Bergelar mami sungguh menggiurkan
Terpaksa badan diserahkan pada jemari liar para pejantan
Hina dihina nista dijalani
Hidup meruap si kupu kupu malam
Dalam dekapan dosa ingat anak menanti di dusun penuh harap
Lorong waktu berjalan maju
Tertatih berjuang ketiga anak menjadi orang besar
Dari uang malam yang didulang
Walau pedih menahan dosa nestapa
Tapi rela tiada daya
Hingga waktu yang dinanti tiba
Pulanglah si wanita dusun melangkah dalam sakit
Dengan senyum di bibir harap dekap hangat si buah hati
Duga tak disangka burung pembawa laknat bercerita tentang dunia malam yang menghidupkan hidup
Anak mencerca malu tak ingin hendak
Tau sang ibu si kupu kupu Malam
Terusir kembali balik reotnya bilik bambu
Kini seisak tangis lirih kembali berdendang dari bilik itu
Bukan tangisan lapar
Tapi tangisan rindu seorang ibu
yang kembali terbuang
Sendiri menunggu maut yang hampir menjelang.
Padang, 12/2/2015
Menyapa sahabat CERPEN_KU.
Perjalanan hidup setiap manusia selalu penuh liku liku namun yang pasti semua harus kita jalani dan tempuh apapun resikonya ... kuatlah dalam menghadapinya

