Dropdown

Jumat, 13 Februari 2015

BALADA KUPU KUPU MALAM

Seisak tangis lirih membisik reot bilik bambu
Seiris kisah pilu mengukir wanita dusun cantik
Lelaki telah pergi campakkan diri sitiga buah hati
Menatap kusam masa depan suram
Wanita getir melangkah kelam

Beradu nasib di dusun teramat sulit
Sawah dan kebun tak menjanjikan
Nekat melaknat sudah
Mencoba peruntungan kota besar
Tinggalkan anak demi suapan perut yang merintih perih
Tawaran datang dari si nyonya besar
Bergelar mami sungguh menggiurkan
Terpaksa badan diserahkan pada jemari liar para pejantan
Hina dihina nista dijalani
Hidup meruap si kupu kupu malam
Dalam dekapan dosa ingat anak menanti di dusun penuh harap
Lorong waktu berjalan maju
Tertatih berjuang ketiga anak menjadi orang besar
Dari uang malam yang didulang
Walau pedih menahan dosa nestapa
Tapi rela tiada daya
Hingga waktu yang dinanti tiba
Pulanglah si wanita dusun melangkah dalam sakit
Dengan senyum di bibir harap dekap hangat si buah hati
Duga tak disangka burung pembawa laknat bercerita tentang dunia malam yang menghidupkan hidup
Anak mencerca malu tak ingin hendak
Tau sang ibu si kupu kupu Malam
Terusir kembali balik reotnya bilik bambu
Kini seisak tangis lirih kembali berdendang dari bilik itu
Bukan tangisan lapar
Tapi tangisan rindu seorang ibu
yang kembali terbuang
Sendiri menunggu maut yang hampir menjelang.
Padang, 12/2/2015
Menyapa sahabat CERPEN_KU.
Perjalanan hidup setiap manusia selalu penuh liku liku namun yang pasti semua harus kita jalani dan tempuh apapun resikonya ... kuatlah dalam menghadapinya

Kamis, 12 Februari 2015

ORANG MISKIN DILARANG MATI


Waktu Kempling bilang emaknya meninggal, sebagai sohib kental, saya langsung terbang ke rumah kontrakannya yang sempit, kumuh, dan sebagian terendam banjir. Tiba di sana beberapa tetangga sudah berkumpul, dan di ruang tamu terlihat jenazah emaknya Kempling terbujur kaku berselimut kain batik panjang. Dua orang kerabat sedang mengaji di dekatnya. Sementara Kempling hanya duduk di dekat mereka dengan kopiah belel warisan bapaknya. Wajahnya yang sangar, tetap tak mampu menyiratkan kesedihan hatinya.
Saya duduk di sebelahnya, ikut diam membisu. Tapi dasar Kempling, diamnya ternyata bukan semata-mata berduka. Buktinya dengan berbisik dia berkata, "Gue bingung buat bayar kontrakan berikutnya. Juga buat makan sehari-hari. Selama ini kan emak yang nanggung..."
"Ssst, sudah. Tenang. Nanti juga ada jalannya..."
"Tenang gimana? Pusing gue!"
"Ssst, tenang..."
"Lu ga tau, pala gue mau pecah rasanya. Ini mayit belom dimandiin. Biayanya 600 ribu, beli perlengkapan kain kafan 450 ribu, buat nguburin 400 ribu kelas 3 yang biasanya banjir. Kelas aman banjir 2 juta kurang. Belum lagi tip gali kubur ama tukang do'a. Sementara di sini angpao buat yang nyolatin ama imamnya...haduuuh! Duit dari mane? Ngojek aja paling bagus dapet 20 ribu..."
Saya memberi isyarat saat suara Kempling agak meninggi. Tapi anak itu tak peduli, dan terus saja nyerocos.
"Belum lagi ntar buat tahlilan, kue-kue, kopi, rokok, besek...hhheeehhhh....!"
"Pliiing...."
"Iya, gue tau. Gue sekedar curhat aja...!" sergah Kempling.
"Apaan sih, gue kaga ngomong..."
tukas saya.
"Pliiiing..."
Saya dan Kempling kaget waktu si mayit bergerak-gerak, lalu menyingkap kain penutup wajahnya.
"Pliiing, emak kaga jadi mati dah kalo biayanya lebih gede dari utang-utang emak..."kata wanita tua itu dengan suara parau saat beberapa pelayat kabur melihat mayit mendadak bangun. "Waktu tadi keselek jengkol emak kira udeh mati, eh ternyata kaga."
"Emaaak...!" seru Kempling girang sambil memeluk sang emak