Dropdown

Minggu, 20 September 2015

TINKERBELL Karya: MJ Tinx

a



TINKERBELL
Mentari baru saja nampak, tapi Emak Musiyem dan Ayah Budy sudah rapi dan wangi. Tercium aromanya seperti bunga kantil di taman depan rumah. Emak Musiyem terlihat cantik sekali, bak seorang Dewi Nawang Wulan dari sebuah kerajaan. Baju batik pink, selendang putih membalut tubuhnya yang langsing dan tinggi semampai. Pokoknya top banget, kaya model yang sudah ‘go internasional’. Ayah Budy pun tak mau ketinggalan. Beliau memakai jas hitam variasi batik, celana panjang hitam dan sepatu fantofel yang mengkilap. Hingga membuat silau saat aku melihatnya. “Awww ….”
“Widihhh …! Mau ke mana, nih?! Kok sudah rapi bener, Mak, Yah?” tanyaku sembari mengelap keringat dengan handuk kecil.

Sabtu, 19 September 2015

PUISI - PUISI SASTRA DEWITA


MISTERI KATA YANG MEMBUNUH RASA
Tikam aku dengan kata madu yang kau lelehkan pada kelopak bunga yang terserak rekah di hamparan padang itu
Saat gelombang sudah tenang dan riak sudahlah diam pada pusarannya
Tapi kau golakkan tepuk buih hingga kembali riuh terundang
Tak tahukah kau ada bilur luka yang acapkali melepuh dan terkoyak lalu kusulam kembali dalam jelujur maaf
Hanya seringkali kuselubungi dalam diam
biarlah serupa misteri bagimu
Karena kuingin telaga ini tetap indah hingga senja kelak menerbitkan malam
Lalu mengatupkan matanya dalam misteri alam
Misteri yang kini menautkan kita dalam satu babak cerita kehidupan
Tapi entahlah ....
Senyatanya teramat sering aku mati saat kata telah acapkali menjadi sebuah belati.
Bumi Andalas,
Nk.2015
Top of Form

Kamis, 03 September 2015

PREMAN karya: DIMAZ DEWANTARA


Lima hari lima malam Marjuki bermenung diri dan selama lima hari lima malam itulah saya bertanya-tanya apa gerangan yang menggelayuti pikirannya. Sepertinya sudah menjadi tabiat saya jika rasa penasaran itu tak terobati maka panas dinginlah suhu badan ini. Berangkat dari rasa penasaran itulah akhirnya saya berkunjung ke rumah Marzuki guna melampiaskan unek-unek yang sudah tak terbendung lagi. Sesampai di rumah Marzuki, saya masih melihat dia termenung-menung dengan muka bermuram durja. Kemudian, saya memberanikan diri mendekati Marzuki penuh hati-hati.
“Juk, kalau boleh saya bertanya kira-kira apa sih yang sedang ente pikirin?” tanya saya seraya menyodorkan rokok ke mukanya yang kusut. Marzuki menghela nafas panjang lalu menghembuskannya pelan-pelan, tangannya merayap kemudian melolos rokok yang saya sodorkan.
“Sebenarnya saya ini kepengen jadi preman” tandas Marzuki dengan mimik yang serius.